Minggu, 03 Februari 2008

KITA DAN KAMI

Profesor Dr. Fuad Hasan (pernah menjadi menteri pendidikan era Soeharto), adalah Dekan Fakultas Psikologi UI, dan mengasuh mata kuliah filsafat psikologi. Dalam karyanya yang berjudul "KITA dan KAMI", perspektif filsafat psikologi, pernah menulis buku yang saya sendiri tidak pernah membacanya, tapi membaca resensi yang dimuat dalam kompas (tangal berapa saya membaca, saya tidak ingat),tapi dalam resensinya itu ada yang menarik sekaligus mendalam distingsi kalaimat serta makna yang dibawakannya yaitu makna tentang filsafat psikologi, tentang ungkapan antara kata : "KITA dan KAMI".

Kebanyakan kita apalagi, orang Papua, teman-teman saya yang memang bukan orang Melayu Asia, bahasa Indonesia-nya masih belopotan adalah wajar. Tapi yang terpenting penulis mau mengingatkan disini adalah perbedaan makna dua kata yang mau memaksudkannya, apalagi itu diucapkan oleh kita sebagai pengguna bahasa, dan bagaimana penempatan yang tepat dan benar dalam berbahasa adalah makna terjauh yang harus dipahami.

Sebagaimana terlihat dari judulnya, KAMI dan KITA, sasaran pesan penulis dalam konteks kewargaan Indonesia, yang menurutnya bahwa masyarakat pluralistik Indonesia seringkali lupa, atau mungkin, selalu menjadi rentan, malah dapat terjerumus pada dichotomisasi. Dalam membahasakan si pembicara dalam masyarakat dapat menunjukkan dari bahasa dan ada hubungannya dengan psikologi penutur. Menurutnya, Indonesia sebagai sebuah bangsa yang terdiri dari berbagai suku, bahasa dan agama, maka ditemukannya dan yang nyata ada dalam NKRI adalah KITA, yang seharusnya demikian, yaitu meliput semua, tapi, malah KAMI, yang itu menyebabkan sektarianisme yang berakibat saling mencampakkan antara sesama warga NKRI.

Oleh sebab itu Indonesia membutuhkan seorang pemimpin yang dapat menyatukan berbagai kemajemukan, yaitu seorang yang berucap KITA, yaitu yang mau mengakui semua bukan KAMI yaitu yang hanya dirinya si pengucap dan kelompoknya atau kawan-kawannya saja. Kita sesungguhnya tidak harus berbeda tapi dalam satu, bukan saling menafikan juga berarti bukan penyeragaman. Pluralitas adalah alamiah, demikian pesan sesungguhnya yang ingin disampaikan dalam karyanya itu.

Kata yang pertama (KITA) mau dimaksudkan, melingkupi, semua, tanpa memandang sebagai orang lain. Lawan bicara tidak dicampakkan sebagai orang lain karena kediriaannya. Berbeda dengan yang pertama, kata kedua (KAMI), membatasi diri, dengan mengeluarkan lawan bicara sebagai lain, dia dicampakkan sebagai bukan saya dan teman-teman saya. Kata 'KAMI', berarti; psikologi si-penutur menunjukkan tidak melingkup. 'KAMI', berarti; mempribadi, lawan bicara dicampakkan sebagai orang lain, bukan teman saya, atau bukan juga 'kami' .

Kita hendaknya, apalagi dalam kebutuhan persatuan dan kesatuan bangsa seperti sekarang ini harus mampu membedakan untuk tidak membeda-bedakan secara dikhotomis sebagai "Kami" dan "Kita". Sebaiknya dimengerti perbedaan dua kata antara "kita dan kami" yang dapat saja berdampak pada sikap ekslusif. Misalnya dengan mengeluarkan teman bicara bukan sebagai bagian dari si penutur kata 'kami' berimplikasi sesungguhnya bahwa kita lagi retak selalu.

Kata 'kita' mau dimaksudkan seseorang penutur, mau merangkul/merangkum semua tanpa memandang lain, bukan sebagai lain tetapi juga sebagai kita, sama dengan saya dan teman-teman semua. Yang lain tidak dinafikan sebagai yang lain. Kemampuan berbahasa baik dan benar dan dimengerti orang ada hubungannya dengan logika (nalar berfikir, berucap dan menulis), misalnya 'kita dan kami' sebagai pembedaan dari pluralitas keberadaan masyarakat suatu bangsa. Semua hendaknya harus tahu, bukan beda artinya saja, tapi juga implikasi arti dari antara dua kata (kita dan kami). Banyak diantara kita, komunitas papua belum dapat membedakan perbedaan kata antara "kita" dan "Kami", yang sesungguhnya sangat jauh berbeda pengertian dua kata yang memang mirip, dianggapnya sama dan satu arti.

BENTURAN PERDABAN

A. PENDAHULUAN

Salam sejahtera untuk semua. Saya ingin bergabung dan ikut komentar atas obrolan/diskusi dua rekan ini (Bung Ali Al Asytar dan Freedom).

Saya ingin bergabung dengan diskusi anda berdua, menarik karena themanya tentang Libanon yang didukung oleh pasukan Hisbullah (dan dunia Arab) dan Israel yang dibelakangnya ada Amerika atau dunia Eropa, terutama negara sekutunya Amerika.

Namun menjadi catatan terlebih dahulu sebelum melangkah lebih jauh dan mendalam diskusi anda berdua, penting saya ingatkan bahwa saya tidak ada niatan lain kecuali bahwa kita bergabung disini (milis komunitas-papua), karena ada parasaan senasib, semat-mata kita disemangi rasa tertindas oelh rezim kolonial yang sama.

Jelasnya perasaan senasib itu diwujudkan dalam tujuan kita bergabung dalam milis ini (komunitas/pembebasan Papua atau GAMRMSOPM) tiada lain, hanya semata-mata merasa dianiaya oleh Indonesia akan hak-hak kita sebagai sebuah bangsa dan negara berdaulat yang tidak terintegrasi ke dalam apa yang dinakamakan NKRI sebagai claim sepihak Indonesia.

B. BENTURAN PERADABAN

Dalam bukunya yang cukup menggeparkan Samuel P. Huntington; mengemukakan thesisnya yang berjudul ; "clash of civilisation" atau "Benturan Peradaban", yang mengasumsikan bahwa Barat, (Amerika Serikat dan sekutunya) pasca perang dingin yaitu runtuhnya Unisoviet (musuh bebuyutan AMerika dan sekutunya yang melahirkan kekuatan Blok Timur dengan Pakta Warsawa sebagai badan pertahanannya). Maka musuh Amerika yang sangat potensial adalah Islam dan kongfucuanisme (Cina).

Peradaban manusia masa yang akan datang tidak sebagaimana perang dunia ke kedua tahun 1945 sampai era 70-an tahun yang lalu. Pada masa ini banyak negara yang bergabung berdasarkan sentimen budaya dan agama bukan atas nama sebangsa karena berdasarkan nasionalisme. Semua suku bangsa dan agama bergabung dalam sebuah bangsa yang dinamakan nation atau bangsa. Namun kemerdekaan lebih pada dominasi dua idiologi yakni Blok Timur (Unosoviet) dan Blok Barat (Amerika Serikat dan Sekutunya), seperti dulu menjadi runtuh dan Amerika menemukan musuh dalam bentuk baru yang lebih dipengaruhi sentimen nilai-nilai budaya dan agama seperti islam dan budaya yang mengikatnya.

Karena dunia selumnya yang melahirkan Blok Timur dan Blok Barat (dipengaruhi nilai ekonomi kapitalis dan sosialis) di dominasi oleh dua kutub; yakni Blok Barat, AMerika dan Blok timur; Unisoviet sudah berakhir, dengan kekalahan dipihak komunisme Unisoviet yang sosialis. Dengan kemengan Blok Barat atau Amerika Serikat dan sekutunya. Praktis Amerika Serikat kini tidak lagi memiliki musuh yang lebih berarti lagi. Dengan runtuhnya Unisoviet maka ideologi sosialisme dianggap kalah atas idiologi kapitalismenya Amerika dan sekutunya.

Michael Gorbacev telah mengakhiri perang dingin yang cukup mengkhawirkan semua orang akan penggunaan senjata kimia pembunuh massal itu dengan reformasi dari dalam. Reformasi ekonomi dari dalam yang digagas oleh Gorbacev mengantarkan dan kini menempatkan Amerika Serikat serta sekutunya sebagai kekuatan satu-satunya yang kini berkuasa dan mengontrol atas masyarakat dunia-internasional.

C. KETAKUTAN AMERIKA PADA ISLAM

Sesudah tidak lagi mempunyai saingan dalam kekuatan baik ekonomi, tekhnologi maupun ideologi, Islam adalah salah satu selain Cina; musuh potensial yang sangat ditakuti dan harus diwaspadai oleh Amerika.

Dalam bukunya, Samuel P Huntington, "Clas of sivilisation", memperdiksikan bahwa watak lain resistensi negara-negara non Barat, akan mengindentifikasi dan dan mencari jati diri dengan semangat budaya dan agama adalah lebih mendominasi perpolitikan sekarang dan kedepan ini. Kekuatan selain Barat, utamanya Amerika yang arogan, sebagai satu-satunya kekuatan tunggal yang menguasai dunia menghadapi lawan utamanya yang sangat potensialnya adalah islam dan Cina, demikian Samuel, menyebutkan ini. Bahwa islam adalah salah satu, kalau bukan, satu-satunya kekuatan baru yang sangat potensial untuk menjatuhkan peradaban Barat yang maju saat ini.

Semua bangsa dunia kini dan kedepan akan mencari indentitas, maka bangsa yang bergabung seperti Unisoviet, Yogoslavia dan Indonesia akan hancur dengan kemerdekaan bangsa lain yang digabung dan disatukan pada masa lalu, akibat kuatnya indentifikasi indentitas bangsa-bangsa dipaksa digabungkan itu.

Bangsa -bangsa dunia baru sedang merancang dunia mereka berdasarkan kesadaran identitas kesuku-bangsaan, yang agama yang mewataki kebudayaan bangsa dunia itu. Idielogi dari Blok Timur yakni Sosilisme atau Komunisme yang dipimpin oleh Unisoviet telah nyata runtuh. Komunisme/Sosialisme sebagai idiologi tidak mati, tetapi sebagai kesadaran ia tetap dianut oleh Cina, Kuba dan Eropa Timur.

Namun sebagai kekuatan tidak lagi ideologi Komunisme atau Kapitalisme sebagaimana pada era pasca perang dunia kedua, namun kini dunia mulai dirancang lebih berdasarkan identitas yakni persamaan suku atau ras dan geografis spesifik lebih menentukan daripada lain.

Tapi yang menarik disini adalah thesisnya Huntungton; yang menyebutkan bahwa sesudah Unisoviet musuh atau dunia idiologi yang akan menjadi kuat dan lawan Amerika nantinya adalah Islam.

Islamlah potensial yang menjadi saingan Amerika Serikat dan Sekutunya. Ideologi Islam berbeda dengan Idiologi Komunisme atau Kapitalisme. Islam betapapun sebagai sebuah idiologi duniawi tetap mendasarkan dirinya pada spritual.

Kehebatan Islam yang berbeda adalah keunikan dirinya yang mendasarkan ideologinya pada agama dan kehebatan idiologi Islam, karena sebagaimana pada masa lalu Barat pernah takluk dan dikalahkan oleh peradaban islam dengan penaklukannya Spanyol Andalusia semala 7 abad.

Namun thesis Samuel P Huntington akan tampilnya saingan baru barat dan sekutu dalam era yang akan datang adalah sesuatu yang menjadi bukan saja menarik tapi sekaligus sangat ditakutkan oleh Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya dewasa ini, ditunggu pembuktiannya dan itu perlu waktu.

D. ISU TERORISME KETAKUTAN BARAT PADA ISLAM

Isu terorisme yang diciptakan oleh Amerika dan dunia barat adalah sebuah contoh ketakutan Amerika pada Islam. Dengan alasan ini , maka pengguanaan kekerasan dan intervensi Amerika atas kedaulatan Negara lain dengan izin PBB, menjadi niscaya bagi Amerika. Demikian standar ganda dan bias kepentingan Amerika dalam mengajak sekutu lain untuk memberantas apa yang ditakutinya sebagi Terorisme "Islam" dewasa ini.

Namun apa sesungguhnya yang dikatakan terorisme adalah hanya sebuah ketakutan Barat belaka pada Islam yang dirasakan kebangkitannya, didalam Negeri-negeri Islam baik di Asia maupun Afrika.

Dunia Arab yang mendasarkan ediologi nasionalisme Arab menyadari bahwa Idiologi Nasionalisme Arab telah gagal total dan mereka dikalahkan oleh sebuah negara "boneka" Amerika yakni Israel ditenggah-tengah bagai luka dalam tubuh.

Dengan kemenangan Ayatullah Imam Khomaeni, maka dunia islam membuka mata mengarahkan mata menuju arah ke Iran. Negara-negara seperti Sudan, Al Jazair, Afganistan dan Somalia serta Mesir adalah contoh negara Islam yang kini mau mencoba menbangun dengan mendasarkan idiologi islam sebagai landasan pembangunan negerinya.

Pada saat sama di Palestina yang selalu bersengketa dengan Israel kini yang berkuasa adalah gerakan yang di mata Barat sebagai "garis keras" adalah gerakan Islam. Bahkan di Indonesia saat pemilu kemarin PKS yang berhaluan islam radikal menang semua daerah kota, terutama Ibukota.

Maka takutlah Amerika pada islam bukan tanpa usaha menghancurkannya. Hal ini kita saksikan pada Irak, Afghanistan dan kini Libanon oleh Israel sebagai negara boneka Barat/Amerika di Timur Tengah.

SEJARAH AGAMA DAN PAPUA MERDEKA

A. SEJARAH MASUKNYA AGAMA DI PAPUA


1. Agama Islam


Telah lama diketahui, bahwa sebelum agama-agama besar datang berhikmat di Tanah Papua, Agama Islam sudah lebih dahulu masuk di Tanah Papua sejak Abad ke 15, terutama di kawasan yang sekarang disebut sebagai berbudaya Irarutu. Kawasan itu terbentang dari ujung paling Barat sampai leher kepala burung pulau Papua. Daerah Selatan Kepala Burung Papua, sebagai kesultanan (kerajaan Islam) meliputi: Kabupaten Sorong Selatan, Raja Ampat, Bintuni dan Fak-Fak dan Kaimana. Kini persebaran agama Islam meliputi seluruh wilayah Papua. Hal disebabkan oleh arus imigran muslim Asia -Melayu (Indonesia), maka daerah persebaran itu meliputi seluruh wilayah Papua. Tidak sebagaimana dikenal para ahli antropologi dulu misalnya hanya meliputi wilayah Raja Ampat, Sorong Selatan (Kokoda), Bintuni, Kokas, Teluk Arguni, Arandai, Fak-Fak, Kaimana dan juga kini di Wamena.


Selain Wamena daerah pesisir Barat Selatan disebut diatas adalah wilayah kekuasaan Kerajaan Islam yang masih membayar upeti ke Tidore (maluku Utara). Namun dewasa ini daerah persebaran itu hampir meliputi seluruh daerah dengan penganut utamanya para pendatang dari Jawa, Madura, Sumatra, Bugis, Buton, NTB, Makasar, dan daerah Indonesia lainnya.


Betapapun para imigran muslim Asia-Melayu (Indonesia), sebagaimana watak agama islam itu sendiri- mereka tidak diutus atau ditugaskan oleh pusat manapun- dengan apapun fropesi mereka, terutama sebagai pedagang membentuk komunitas muslim di sentra-sentra kota seluruh Kota Kabupaten Papua dan Irian jaya Barat.


Penting juga di sampaikan disini bahwa kepemelukan Islam lebih dominan dan hanya menjadi agama para penduduk yang mereka itu adalah lebih disebut melanesia. Dikalangan Pribumi Papua terdapat di Kaimana, Kokoda, Bintuni dam mungkin sekarang di Suku Dani di Lembah Balim. Umumnya dewasa ini islam sebagai agama dari para pendatang muslim dari orang Indonesia tanpa ada usaha penyebaran ke penduduk pribumi.


Apalagi Agama Islam didaerah Pegunungan Tengah selain Lembah Balim Selatan, Islam sesungguhnya agama penjajah sebab agama ini penganutnya terdiri dari- anggapan penduduk setempat- para militer dan pedagang Indonesia sebagai penduduk urban, boleh jadi bahwa agama Islam dimata rakyat Papua di Pegunungan Tengah sesabagai sesuatu yang asing sebagaimana juga anggapan mereka para Para Missionaris dan Kristennya.


Dalam banyak karangan ilmiah para ahli sejarah demikian melaporkan bahwa Islam adalah agama pertama yang datang dan dibawa masuk ke Tanah Papua oleh para perantau melalui perniagaan berasal dari Hadral maut, (baca, Yaman Selatan). Demikian bukti dan data secara ilmiah oleh para ahli seperti sejarawan dan antropolog pertama dan terutama asal Papua kelahiran Pulau Biak. Dr. J.R. Mansoben, Benny Giay, dan F.C. Kamma mengakui.


Semua ahli mengatakan yang intinya sama, bahwa kecuali didaerah Pegunungan Tengah yang penduduknya padat, terisolir dari daerah lain. Diderah Raja Ampat, Sorong misalnya; Oleh F. C. Kamma mengagatakan bahwa Sultan Tidore dan Ternate secara berrgantian membawahi kerajaan di Kepulauan Raja Ampat, Sorong dan Fak-Fak, Kokas, dan Teluk Arguni dalam pengaruh agama Islam yang kuat.


Bahkan dalam sejarah Orang Papua diakui oleh Natalis Pigay dalam bukunya tentang Sejarah, "Evolusi Nasionalisme dan Konflik Politik di Papua", bahwa Pergerakan dan Pemberontakan Papua Merdeka, embrionya dimulai oleh para pemimpin muslim di Fak-Fak maupun di Raja Ampat, Sorong lebih dini, sebelum kesadaran daerah lain muncul. Dalam bukunya yang di beri pengantar oleh Dr.Lance Castles, MA (dosen tamu UGM dari Austalia). Mengakui bahwa Raja Muslim dari Raja Ampat, Sorong yang bernama Abdullah Arfan mendirikan Paprtai Politik, SSM (Samas-Sama Manusia) untuk menuju penentuan nasib Papua terpisah dari Indonesia/NKRI.


Demikian juga buku yang dikumpulkan hasil karangan para aptenar Belanda yang bertugas di Papua Barat dekade 1950-1960-an akhir, yang berjudul : BELANDA DI IRIANJAYA 1945-1963, para penulis yang terdiri dari orang Belanda ada menyebut bahwa orang-orang Papua, seperti Abdullah Arfan dari Raja Ampat adalah ketua Partai SAMA-SAMA MANUSIA (PSSM), yang menginginkan Papua harus terlepas dari berbagai Pangkuan asing termasuk Indonesia/NKRI.


2. Kristen Protestan


Agama Kristen Protestan adalah agama samawi, menjadi urutan kedua, setelah Islam sudah ada 300 tahun (dari abad 15), yang menginjakkan kakinya pada bulan April tahun 1885 tidak di Tanah Besar , namun di sebuah Pulau di Utara Kepala Burung, yang kini dikenal sebagai Pulau Mansinam (sebagai bagian dari Kabupaten Manukwari). Sedangkan Kristen Ptotestan itu sendiri dibawa datang dari Jerman oleh Pendeta Otto dan Geissler yang sebelumnya mampir di Tanah Betawi, Batavia (Jakarta kini) pada tahun 1885, yang berarti 300 tahun sesudah agama Islam lebih dulu ada. (Benny Giay, 1998).


Sebelum misalnya agama Kristen Protestan datang diantar oleh Otto dan Geissler di Pulau Mansinam, Manokwari. Pada umumnya masyarakat di Tanah Papua, sama sekali belum mengenal agama manapun selain agama asli (religi asli melanesia/Papua) dan hanya sedikit tidak terlalu significant, agama Islam dianut oleh penduduk didaerah tersebut diatas. Agama Islam hanya meliputi sebahagian wilayah saja dari Wilayah Papua Barat yang luas, yang disebut sebagai daerah berkebudayaan Irarutu, yang wilayah itu tersebar didaerah disebut diatas.


Agama-agama dunia yang datang berhikmat ditengah masyarakat Papua terutama di Pegunungan Tengah, hanya baru mendapatkan tempat dihati warganya dalam tahun-tahun belakangan ini saja. Sebab kehadiran utusan Injil ditolak secara habis-habisan sampai akhirnya baru dalam tahun 1980-an, bahkan ada yang baru mendapatkan pengikut dalam tahun 1990-an baru-baru ini. (Benny Giay, 1998, h. 13).


Para Missionaris baru bisa ajak Orang Papua Pegunungan Tengah (PTP), masuk ke Geraja terbatas dari kalangan anak-anak mudanya saja. Secara serentak utusan Injil baru dapat membaptiskan anak-anak muda yang sebelumnya diikutkan dalam sekolah yang dibuka olah para missionaris Kristen. Para intelektual dengan gelar doktor yang dimiliki Papua dewasa ini adalah barisan intelektual pertama hasil didikan dari pendidikan Missionaris.


Para missionaris membuka isolasi daerah dan mendirikan pos-pos Missionaris Kristen dan Katolik yang dilakukan terus sampai Papua dimasukkan kedalam NKRI hingga dalam tahun 1970-an, sebagai awal mula terbukanya penduduk Papua atas keisolasiannya yang panjang. Padahal penduduk paling padat tersebar di Pegunungan Tengah Papua, dengan jumlah jiwa penduduknya paling besar dan padat diantara seluruh penduduk Papua didaerah pesisir yang telah lama diketahui dan berhubungan dengan dunia luar dengan berbagai pengarauh peradabannya. Penduduk PTP baru dijangkau lewat udara dengan mengunakan pesawat-pesawat twin other/cesna. Para Missionaris membuat pos untuk mendidik orang Papua dalam nilai "Kabar Gembira" yang mereka bawa untuk menggantikan agama dan nilai budaya lama dari kebanyakan orang Papua didaerah Pegunungan Tengah Papua.


Karena itu sesungguhnya mereka menolong orang Papua agak sangat terlambat dibandingkan dengan didaerah Pesisir Utara Pantai. Di Pegunungan Tengah Papua, Missionaris awalnya khawatir bahkan tidak berani, (karena mereka anggap orang Papua kanibal), untuk masuk menyampaikan apa yang dikatakan sebagai "Kabar Gembira"/menyebarkan agama di antara penduduk Pegunungan Tengah Papua, walaupun sejak lama mereka ketahui pemukiman padat di wilayah ini.


Maka disinilah letak logikanya apabila ada berita baru-baru ini yang difasilitasi oleh Pemerintah Daerah untuk membakar dan memusnahkan habis budaya dan kepercayaan lama seperti di Yahukimo. Karena itu sampai tahun 1990-an baru-baru ini belum satupun agama samawi mampu menaklukkan agama-agama lama yang secara serius dan significant. Kecuali dengan cara mereka membakar habis adat dan budaya Papua sebagaimana yang dilakukan di Yahukimo beberapa waktu lalu yang kita dengar dimediasi oleh Sang Bupatinya.


3. Agama Katolik


Agama Kaotolik dewasa ini sebagai agama besar kedua setelah Kristen Protestan, adalah agama samawi yang masuk paling terakhir di Tanah Papua dalam tahun 1830-an di daerah Merauke dan sekitarnya oleh para Kolonialis Belanda dengan dibantu tenaga guru-guru dari Maluku Tenggara (Key). Agama ini pada dasarnya adalah agama yang dianut mayoritas penduduk Belanda dan persebarannya banyak difasilitasi pemerintah. Daerah persebaran selanjutnya adalah Pegunnungan Tengah Papua (Paniai, Lembah Balim, dan daerah perbatasan PNG, seperti Suku Muyu, Arso di Utara Jayapura.


SEJARAH EMBRIO PEREJUANGAN PAPUA MERDEKA


Sebagaimana sejarah agama-agama samawi dalam berkhitmat di Tanah Papua, telah dijelaskan diatas tadi. Maka penting juga diketahui bahwa sejarah embrio pemberontakan Orang Papua sudah dimulai di Fak-Fak dan Raja Ampat, Sorong. Fak-Fak, misalnya Raja Rumagesang Umar Sekar di zaman pemerintahan Hindia Belanda, telah lama menentang Belanda yang kolonialis, terutama dalam penguasaan buah pala yang menurutnya tidak adil bagi rakayat yang di ambil dengan keuntungan besar oleh pihak Belanda.


Demikian Raja Umar Sekar, seorang Raja (Putra Asli Papua) asal Fak-Fak, yang beragama Islam, memulai melakukan perlawanan terhadap para penjajah Eropa, sebagai embrio evolusi Nasionalisme bangsa Papua Barat yang paling pertama yakni pada tahun 1934 di Papua Barat. Sehingga ia sendiri meninggal dipengasingan, yang sebelumnya keluar masuk penjara di Holandia (Jayapura), karena dipenjarakan oleh pemerinrtah kolonial Hindia Belanda dalam pertikaian monopoli (penguasaan) atas buah Pala di Fak-Fak kala itu. Belakangan Raja Muslim pemberontak ini meniggal di pengasingan di Pulau Nusakambangan. (Natalis Pigay, 2000).


Bahkan dalam sejarah Orang Papua diakui oleh Natalis Pigay dalam bukunya tentang Sejarah, "Evolusi Nasionalisme dan Konflik Politik di Papua", bahwa Pergerakan dan Pemberontakan Papua Merdeka, embrionya dimulai oleh para pemimpin muslim di Fak-Fak maupun di Raja Ampat, Sorong lebih dini, sebelum kesadaran daerah lain muncul. Dalam bukunya yang di beri pengantar oleh Dr.Lance Castles, MA (dosen tamu UGM dari Austalia). Mengakui bahwa Raja Muslim dari Raja Ampat, Sorong yang bernama Abdullah Arfan mendirikan Paprtai Politik, SSM (Samas-Sama Manusia) untuk menuju penentuan nasib Papua terpisah dari Indonesia/NKRI.


Demikian juga buku yang dikumpulkan hasil karangan para aptenar Belanda yang bertugas di Papua Barat dekade 1950-1960-an akhir, yang berjudul : BELANDA DI IRIANJAYA 1945-1963, para penulis yang terdiri dari orang Belanda ada menyebut bahwa orang-orang Papua, seperti Abdullah Arfan dari Raja Ampat adalah ketua Partai SAMA-SAMA MANUSIA (PSSM), yang menginginkan Papua harus terlepas dari berbagai Pangkuan asing termasuk Indonesia/NKRI.


IJTIHAD POLITIK MUSLIM PAPUA


Dari berbagai paparan sejarah menunjukkan, walaupun sudah tidak penting, namun demikian secara significant keterkaitan Islam sebagai suatu agama/budaya sekaligus disatu sisi, dan para pemimpin Muslim Papua, dalam Gerakan Perjuangan Papua Merdeka disisi lain menunjukkan bahwa keterkaitan erat antara Perjuangan Papua Merdeka dan ketokohan ke-Islaman-nya tidak dapat dipisahkan dalam sejarah pemberontakan Papua.


Para tokoh pemimpin Muslim Papua lebih dulu memimpin pemberontakan terhadap penjajah asing, hampir semua karena spirit dari ajaran islam itu sendiri sangat kuat, sampai-sampai Islam includ dari perlawanan itu, sehingga menjadi wajar ketika kemudian tokoh/para pemimpin Muslim Papua dapat lebih dulu tampil kedepan, terutama dalam menyemangati gerakan perlawanan perjuangan. Para Pemimpin Muslim selalu dimana-mana termasuk di Papua dulu, kini adan anti selalu tampil membela kebenaran diatas mayoritas rakyat Papua yang animisme dan pemeluk agama lain Islam.


Keunikan dan kehebatan kebenaran agama Islam sebagaimana para pemimpin Muslim yang diperlihatkan dalam sejarah diatas menjadi sangat penting bagi Musliim Papua. Tidak saja bahwa para perintis Papua merdeka adalah termasuk para Pemimpin Muslim, namun yang paling penting diperhatikan adalah nilai-nilai islam yang diajarkan sehingga dianut oleh para pemimpin Islam Papua seperti itu barangkali yang terpenting untuk Muslim Papua hari ini untuk perkembangan kedepan sehingga dapat dielaborasi terutama rekontruksi pemikiran dan sekaligus gerakan oleh generasi muda muslim sebaiknya diperhatikan sebagai gerakan "Ijtihad Politik Muslim Papua".


Dalam rangka ini Sekjen Papua Merdeka (baca, PDP), Al-Mukarrom, Muhammad Thoha Al-HAmid, telah memulainya, adalah sebagai bukti bahwa Muslim Papua selalu terdepan dan orang yang selalu pertamakali yang tampil membela atas penindasan nasib dan masa depan Papua. Beliau dengan berani menyatakan serta tampil membela hak-hak asasi manusia, serta menegakkan nilai-nilai demokrasi yang ada dalam islam dari kolonialisme bangsa Indonesia atas nasib dan penderitaan bangsa Papua Barat. Demikian juga selalu dan dimana-mana para pemimpin Muslim bila di ganggu oleh bangsa asing.


Lalu kalau begitu mengapa dalam sejarah pemberontakan dinegeri-negeri jajahan hampir selalu dan selamanya muncul para pemimpin Muslim (sekalipun mereka minoritas) untuk membela rakyat mayoritas dan tanah air bangsanya untuk membebasakan diri dari hegemoni asing dan kolonialisme?


Jawaban atas pertanyaan ini tidak lain, tidak bukan, tapi Islam jawabannya. Islam adalah agama pembebasan, Islam adalah agama kemerdekaan, karena Islam agama kemanusiaan atas kebiadaban, dan sifat kebinatangan manusia. Islam hadir untuk memperbaiki kehidupan manusia, terutama akhlaq serakah, kerakusan, penindasan, hampir selalu dan dimana-mana Islam hadir tampil kedepan untuk membebaskan umat manusia.


Demikian yang terjadi di Amerika Serikat Oleh Black Moslem, Elijah Muhammad, Malkom X, pemimpinnya Muhammad Ali, Petinju terkenal, atau Karim Abdul Jabbar, Pebasket terkenal dunia. Demikian juga yang terjadi di Timor-timor, bahwa Mari' Al-Katiri, seorang Putra Timor, yang masih berdarah Hadrol Maut (Yaman Selatan). Adalah tidak lain kecuali disemangati oleh nilai-nilai Islam yang terkandung didalam Al-Qur'an dan Sunnah Rasul, yang diberi teladan oleh Nabi Muhammad SAW, sebagi sudi teladan, sebagai pemimpin politik di dunia yang sangat berhasil dikagumi oleh orang Barat dewasa ini sebagai satu-satunya pemimpin politik secara cemerlang menguasai separuh dunia.


Demikian juga yang terjadi dengan di Ethiopia (Habasya, Zaman Nabi Muhammad pernah Hijrah dinegeri ini), bahwa para pemimpin islam dinegeri itu tampil kedepan dinegeri mayoritas umat beragama Nasrani untuk membela kebebasan dan kemerdekaan. Demikian juga yang dilakukan oleh Syaikh Yusuf Al-Makassari di Afrika Selatan, (seorang ulama keturunan Sulawesi Selatan, di negeri orang kulit hitam dalam politik apartheid yaitu politik perbedaan antara kulit putih dari Eropa dan Orang Hitam Afrika). Demikian yang terjadi di India oleh para Mulla yang dapat kita saksikan.


Tapi pertanyaannya kembali bahwa mengapakah Para Pemimpin Muslim ini berani dan lebih dulu tampil kedepan membela hak-hak rakyat dan tanah air bangsa manapun dan dinegeri apapun adalah suatu pertanyaan yang tidak banyak yang ingin ditelusuri oleh kalangan intelektual Papua dewasa ini. Maka itu dalam tulisan dengan judul; "Ijtihad Politik Muslim Papua" adalah salah satu usaha menjelaskan kepada para pejuang papua Merdeka dari umat penganut agama lain, disatu pihak dan para mahasiswa Papua sebagai pioneer dan motor yang memegang tongkat estafet kepemimpinan Papua Merdeka, dipihak lain ingin dijelasakan disini.


Sehingga selama ini misalnya, tanpa menjelaskan secara mendasar bahwa apologi orang Papua dengan mengatakan bahwa Islam dan Muslim Papua beda dari Indonesia. Maka inilah hakikat dari lansadannya dari argumenatasi pembelaannya itu, yang sesungguhnya bersumber tidak lain tapi dari nilai-nilai agama Islam sendiri, sebagai agama kelanjutan Yahudi, Kristen dari sumber dan sekaligus kakek para pendiri Agama besar dunia yang ditenggarai sebagai agama samawi yakni Baginda Nabi Ibrahim AS/Abaraham.


A. Landasan Teologis


1. Yaa Ayyuhannasu Inna Kholaqnakum Minzdakari Waunsta Waj'alnaakum syu'uubauw Waqobaa ila Liat'arofuu. Inna akromakum 'indallahi Atqookum. Innallaha' Aliimun Khobiir.


Terjemahan bebas;


Artinya : Wahai manusia sesungguhnya Kuciptakan kamu seorang laki-laki dan perempuan, dan Kujadikan kamu bersuku-suku dan berbangsa bangsa agar saling kenal mengenal diantara kamu sekalian. Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Alloh adalah orang yang paling bertaqwa. Sesungguhnya Alloh paling mengetahui demikian itu.


2. Laisal birro antuwalluu wujuhakum qibalal masyriqu walmaqhrib, walakinnal birro, antu'minu billahi walyaumil akhir, waaatalmaala 'alahubbihi dawil qurba wal yatamaa wakmasakiin wabnassabiil- Akhir


Terjemahan bebas;


Artinya : Bukanlah kebaikan itu engkau menghadapkan wajahmu kearah barat ataupun kearah timur, akan tetapi kebaikan itu adalah engkau beriman kepada Alloh dan percaya pada hari akhir (hari kiamat), dan memberikan harta benda kepada kepada orang-orang yang di cintai dari kerabat keluarga dekat, orang miskin, ibnu sabil ...(sampai dengan 7 asnab yang lain yang diwajibkan dalam kewajiban zakat sebagaimana diatur dalam ajaran islam bagi muslim yang mampu).


3. Wama kholaqtul jinna wal insa illa liya'budun


Terjemahan bebas;


Artinya : Tidaklah Ku ciptakan Jin dan Manusia kecuali untuk beribah kepada-Ku


4. Kullu mauludin yuuladu 'alal fitroh, fabawahu yuhawwidanihi, aw yunashironihi, aw yumajisaanihi. Rowahu Bukhori Muslim.


Terjemahan bebas;


Artinya : Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan suci, maka yang menjadi ia sebagi sepanganut apapun nilai lain disebabkan oleh lingkungan dan keluarganya. Hadist riwayat Bukhori Muslim.


B. Penerjemahan dari dalil Qur'an dan Hadits diatas sbb :


B.1. Penafsiran ayat pertama;


Bahwa ayat pertama mengajarkan kepada umat muslim untuk selalu dengan siapapun sepanjang sesama manusia, tanpa memandang ia laki-laki atau perempuan, suku, agama, keturunan, bangsa, tempat lahir/asal nenek moyang, secara alami adalah kehendak Tuhan, penciptaan atas perbedaan latar belakang adalah rencana Tuhan, karena itu perbedaan adalah disengaja agar kita saling kenal-mengenal. Nabi Muhammad SAW pernah bersabda : IKhtilafi 'ala ummati rahmatun; Artinya: Perbedaan diantara umatku adalah kasih sayang. Kesimpulannya bahwa islam memandang kemajemukan/ pluralisme sosial masyarakat umat manusia adalah alami/hukum alam.


Ada pameo yang selalu dikatakan sehingga populer yakni Jika tak kenal maka tak sayang, artinya bahwa pluralisme agama, keanekaragaman penduduk, ras, batas teritorial adalah semua disengaja agar kita selalu mau mengenali, karena kalau kita kenal atau tahu maka biasanya kita mau mengerti atau mau menerima kekurangannya, sama persis dengan orang yang jatuh cinta, kalau sudah cinta apapun kekurangannya kita selalu mau menerimanya karena kita sudah kenal.


B.2. Penafsiran ayat kedua;


Kebaikan atau keutamaan tidak datang dari barat dan tidak datang dari timur, tapi dalam diri sendiri, yakni apabila kita secara dogmatik meyakini dan mempercayai Tuhan. Jadi mempercayai diri sendiri bahwa satu-satunya kepercayaan kita selalu hanya kepada Alloh SWT. dan hari kebangkitan atau hari akhir. Konsekunsi kepercayaan dalam ayat ini hanya disebut beriman kepada Alloh dan Hari akhir, maka dengan sendirinya sesungguhnya meliputi rukun iman yang enam dan rukun islam yang lima.


Rukun iman selalu berdimensi transendental, berbeda misalnya rukun iman, kecuali konsekuensi dan imlikasi hasilnya diorientasikan kepada hakekat akan adanya iman didada. Tapi rukun islam adalah lebih diarahkan kehidupan praktis, yakni aspek sosial. Dalam rukun islam mengajarkan kepada kita untuk selalu membagi. Kita selalu harus memperhatikan lingkungan hidup kita untuk, membantu, mendukung, saling tolong menolong, saling memberi dalam waktu-waktu yang ditetapkan maupun sepanjang waktu selama kita mampu. Tapi kalau kita tidak mampu berbuat kebaikan untuk umat manusia maka kita berhak mendapatkan perbuatan baik orang sebagai amal sholeh.


Karena itu hikmah ayat ini untuk kita Papua pada konteks zaman kini adalah bahwa kita tidak boleh berharap menganggap kebaikan secara mutlak hanya salah satu arah saja. Kita mencari dukungan baik di barat maupun ditimur. Tapi kebaikan keduanya kita ambil apabila bila kebaikan itu ada. Tapi kita boleh mutlak menganggap Timur atau Barat menjadi selalu baik. Tapi dengan cara kita mempercayai diri sendiri bahwa kita mampu dan menentukan kebaikan dari semua bantuan dukungan dari mana saja arahnya dukungan itu datang. Itulah iman, Prinsip, itulah self of confident. Bahwa kita mampu merdeka dan percaya diri akan hal itu.


B.3.Tujuan Alloh menciptakan kita hanya mengabdi padanya. Apapun kerja dan profesi kita, semuanya diarahkan semata-mata mengabdi/ibadah kepada alloh. Sekalipun mati akibatnya jika itu adalah merupakan suatu ibadah maka kita menjalaninya sebagai bernialai ibadah asalkan dengan dilandasi niat dan tujuan mulia misalnya dalam jihad fisabilillah.


Dalam hadits Nabi pernah bersabda; Innamal'amalu binniyah, wainnamallikulli riimaanawa....akhir. Artinya : Segala sesuatu tergantung dari niat, karena itu niat kita selalu semata-mata li'i'la kalimatillahi Izzulislami walmuslimiin, yakni menegakkan kalimat tauhid yakni Laailahaillah Muhammadan rosulullah, yang sepadan dengan menegakkan kemerdekaan, keadilan dan kemanusiaan dimuka bumi. serta untuk kejayaan para pejuang kemerdekaan dinegeri tertindas, agar manusia dinegeri mereka berharkat dan bermartabat sebagai makhluk Tuhan yang mulia yang diutus dimuka bumi untuk mengatur dan memelihara alam ciptaannya.


B.4. Terjemahan Hadits;


Pada hakekatnya manusia dalam pandangan Islam adalah semuanya dilahirkan sebagi suci, karena itu ia muslim, tapi karena alam dan lingkungan termasuk orang menyebabkan seseorang menjadi komunis, atheis, muslim, kristen, yahudi dan majusi. Karena itu dalam pandangan Islam manusia tidak ada dosa warisan atau tidak menanggung dosa orang lain. Wala taziwazirotuwwizro ukhro atau Famaiyya'mal mitsqo lazdarrotin syarroiyyaroh. Wamaiyya'mal mitsqo lazdarrotin khoiriyyaroh. Karena itu dosa Indonesia atas penindasannya nasib dan penderitaan orang Papua adalah tanggungjawab para pemimpin Indonesia dan dosa itu tidak dapat dipikulkan pada masyarakat secara berjamaah. Karena itu tidak ada dosa warisan atau dosa berjamaah yang hanya dilakukan oleh oknum tertentu dari manusia.


Wallahu'alam bishowab.

BAGAIMANA PAPUA BISA MERDEKA?

Pendahuluan

Banyak pertanyaan dengan thema sama sebelum ini diajukan oleh, Anak Papua Barat, seperti "Kapan Papua Merdeka?" oleh Ismail Asso, "Kapan Saya Bisa Merdeka", oleh Awom Manukwari, dan sebagainya. Tapi sejauh ini belum ada, atau belum sanggup dijawab oleh kita semua. Walaupun demikian saudara Ehud Ham dalam SPM news, sudah mencoba menggagas FORUM sebagai tempat diskusi, guna mencari format perjuangan yang harus ditempuh, dan sebahagian kiat-kiat apa yang sebaiknya dipersiapkan oleh kita, Rakyat Papua Barat itu, secara parsial usdah di diusakan dan dijawab oleh Saudara Ehud Ham.

Maka saya disini hanya menambahi dan mencoba mempertanyakan ulang agar kita memiliki kesadaran sama. Kesadaran sama untuk mencari jalan keluar dari masalah besar dan berat seperti ini. Maka langkah pertama kita mengharuskan diri berangkat dari beberapa pertanyaan seperti : apa, bagaimana dan mengapa, untuk mengetahui sumber hambatan kita untuk dapatkan lebih jelas dari pokok segala sumber hambatan kelemahan kita itu.

Namun jawaban langsung dan menyeluruh atas pertanyaan demikian tidak memadai atau malah tidak mungkin oleh hanya seseorang saja, bahkan sekalipun lembaga/intitusi seperti TPN/OPM dan PDP/DAP terasa tidak memungkinkan. Bukan karena salah pertanyaannya, tetapi pertanyaan seperti ini sesungguhnya adalah refleksi (renungan pribadi), atas ketidakpuasan Tanah Air dan Suku Bangsanya di jajah dengan merampas seluruh harta kekayaanya oleh orang lain sebagai penjajah.

Oleh sebab itu pertanyaan seperti ini tidak dibebabankan kepada institusi apalagi pribadi-pribadi dari individu orang Papua untuk menjawabnya. Mengingat kewajiban membela Bangsa dan Negara serta Tanah Air Papua Barat adalah suatu kewajiban bersama seluruh manusia Papua dimanapun dan kapanpun sepangjang kolonisasi Indonesia dan antek-anteknya masih terus berlangsung dengan imbas akibatnya semakin parah dan berbahaya, bagi hidup dan keberlangsungan existence Bangsa Papua Barat kedepan ini.

Maka salah satu cara usaha kita adalah penting menyadari penjajahan itu dan kelemahan kita sendiri dalam usaha menempuh membebaskan diri dan bangkit melawannya segera secara bersama-sama adalah kegunaan thema pertanyaan sama disini. Karena Paling-paling kita semua menyadari kenyataan akan kewajiban bela negara beserta segala isi buminya berangkat dari refleksi pemikiran seperti ini. Dan untuk itu tulisan ini mencoba mempertajam pertanyaan sama agar kita semua anak negeri Papua Barat segera menyadari betapa kewajiban mulia ini harus dipikul secara bersama-sama adalah jawaban yang diharapkan atas pertanyaan sama lainnya.

Sehingga kewajiban membela dan memperjuangkan Papua Merdeka tidak hanya tugas dan kewajiban satu dua orang atau lembaga, namun menjadi kesadaran seluruh anak negeri Papua Barat. Dalam hal ini kita sering dingatkan misalnya Tuan Andy Ayamiseba, (Tokoh Nasionalis OPM, yang berdomisili sebagai wakil Papua di Vanuatu); bahwa mulai dari menteri RI Fredy Numberi sampai dengan Gubernur Bas Suebu adalah OPM, hanya bagaimana upaya kita mengoptimalkan potensi semua OPM tanpa ketinggalan sebagai tidak lain wujud Nasionalisme ini yang seringkali terhalangi oleh egoisme primordial.

Maka tulisan ini mencoba membangun suatu kesadaran nasionalisme Papua Barat dari sisi perspektif pemikiran, sehingga kita dapat berpijak dari satu landasan Nasionalisme Papua Barat yang kokoh, elaborasi lanjut dari pemikiran ini yang di harapkan adalah pembaharuan (inovasi) semua gerakan pada satu titik yakni mewujukan Papua Damai, Papua Merdeka dan berdaulat penuh.

Kelemahan Bangsa Papua

Sebelum memasuki pembahasan lain penting lebih dahulu menyadari kelemahan diri, Bangsa Papua Barat, adalah amatlah penting, agar kita tidak melulu menyalahkan kesalahan diri kepada penjajah Indonesia. Agar dengan kesadaran kesalahan dalam bangsa sendiri dapat membangkitkan Nasionalisme Papua Barat dalam artian yang sesungguhnya. Untuk itu untuk mengetahui kesalahan diri sendiri, Bangsa Papua Barat, sebagai bagian dari insropeksi diri amatlah penting didahulukan dulu disini.

Untuk mengetahui dan mengukur sehingga menjadi tahu, paham, sadar dan mengerti masalah kita akan kelemahan diri sendiri itu, terlebih dahulu harus merumuskan apa-apa kekurangan-kekurang an kita itu. Untuk itu ilmu logika dan filsafat sebagai ilmu kritis sebagaimana Filosof Yunani, Aristoteles, menyediakan beberapa pertanyaan pokok yakni : Apa, Bagaimana dan Mengapa, perlu dimunculkan disini lebih dahulu. Pertanyaan seperti "Mengapa Kita di jajah Bangsa Indonesia? Kenapa Kita tidak Mampu berdaulat? Apa kekurangan kita itu? Bagimana Papua Barat dapat Berdaulat? Apa yang harus dilakukan orang Papua Barat? Adalah pertanyaan penting, dari dua belas pertanyaan yang dirumuskan Aristoteles, dalam menjawab permasalahan sebagaimana juga kita hadapi Papua Barat. Untuk kegunaan menjawab semua kekurangan dan kelemahan kita untuk mengetahuinya kita membatasi hanya pada tiga pertanyaan pokok yakni Apa, Bagaimana dan Mengapa.

Banyak jawaban yang diberikan sebelum ini untuk menjawab pertanyaan ini, tapi umumnya kita sering salah menyadari bahwa sumber segala sumber ada pada penjajah Indonesia, Amerika dan Belanda atau bangsa-bangsa lain didunia, terutama tatkala PEPERA tahun 1963 itu karena tidak memenuhi one man one voot. Tapi penting juga menyadari bahwa bukan kesalahan tapi kelemahan ada pada diri kita, Bangsa Papua Barat. Kalau begitu apa saja kelemahan itu? Kelemahan kita, Bangsa Papua Barat itu banyak tapi disini bukan tempatnya mengulang-ulang sesuatu yang sudah diketahui dan disadari bersama akan kelemahan itu. Tapi pentingnya disini adalah menyadari kelemahan masa lalu itu sebagai semangat untuk bangkit kembali secara bersama merebut kembali akan hak dan kewajiban merebut kembali kemerdekaan kita yang dirampas oleh Indonesia-Amerika.

Selanjutnya pertanyaan pokok dan menentukan adalah, "bagaimana". Sehingga bagaimana caranya kita kembali merebut kemerdekaan kita yang konon di Proklamasikan 1 Desember 1961 itu? adalah bukan lagi mengapa? tapi lebih pada kenyataan kita saat ini, bagaimana caranya. Cara agar kita dapat berdaulat kembali dari kenyataan sekarang para penjajah mencuri, membunuh, merampok, memperkosa semua sumber daya alam dan manusia Papua Barat yang terus secara tidak waras alias gila dengan semakin memprihatinkan berlansung kini, bagaimana caranya kita membebaskan diri dari ini semua adalah pertanyaan pokok.

Bagaimana seharusnya kita dan bagaimana caranya kita membebaskan diri menuju Papua Damai, Papua Merdeka dari penindasan diatas Tanah Air sendiri ? adalah suatu pertanyaan yang senantiasa dibutuhkan untuk dikerjakan bukan untuk menjawab dengan diam tanpa usaha melawan dan menentang Penjajah Indonesia, Amerika, dan lain-lain kongsi kapitalisme yang berlangsung di Papua barat dewasa ini.

Satu sumber penjajahan yang penting disadari adalah hegemoni sosial budaya. Budaya yang dicekoki pada bangsa kita oleh penjajah adalah bukan budaya kita sendiri, tapi budaya penjajah, kita tidak menyadari hal ini, cara bertindak kita, cara berfikir, tingkah laku, dalam diri kita sebagai manusia Papua, bukan kita berbicara sebagai orang Papua, berfikir sebagai orang Papua, bertindak bukan sebagai orang Papua. Kita sebagaimana pernah dikatakan Dr. Phil Erari menjadi manusia yang aneh, karena kita berbicara bukan dengan bahasa sendiri, bertindak dengan bukan dengan kemauan sendiri, berfikir bukan dengan kebebasan diri kita sendiri. Tapi semua adalah semua kehendak penjajah Indonesia.

Kita terkuasai semua oleh hegemoni budaya Asia. Semua selera Indonesia bukan kemauan kita orang Papua sendiri. Kita tidak menentukan kebebasan kita sendiri dalam budaya sebagai orang Papua. Tapi semua sudah dipaketkan untuk kita anut oleh penjajah. Disinilah esensi atau hakekat dari penjajahan itu,. namun kita tidak biasa pernah menyadarinya senantiasa, dan kita terlarut didalamnya. Kita menjadi manusia aneh dimuka bumi.

Adapun beberapa kelemahan yang kita miliki sekarang ini sehingga ada gap antar sesama kita Papua adalah gap antara kultur budaya Papua yang umumnya berdomisili di pegunungan tengah dan kultur Pulau atau dekat laut. Hal ini sangat kontras dalam gerakan perjuangan sehingga untuk menyatukannya menjadi satu payung adalah hanya pernah ada dalam kongres ke II tahun 2001 yang kemudian melahirkan PDP dengan satu tokoh Nasionalis Demokrat yang kharismatik sekelas Theys Hiyo Eluay.

Sejak kematian tokoh ini Papua kini ibarat bayi kesakitan. Kita krisis pemimpin yang sekharismatik dan sekelas Theys untuk saat ini. PDP dibawah Tuan Thom Beanal sangat rapuh dan lemah, ibaratnya hidup segan mati tak mau, demikian kondisi PDP saat ini, sehingga beberapa waktu lalu TPN/OPM di rimba raya melakukan kongres "terbatas", sekalipun tidak representatip tapi dapat dimaklumi untuk mengisi kesenjangan yang terjadi di PDP. Disinilah letak kelemahan kita saat ini.

Adapun kelemahan lain kita adalah mudah percaya pada orang lain, dan tidak memiliki kepercayaan diri, budaya kita mulai rapuh, adat kita sudah kita ganti dengan agama adalah sumber segala sumber yang paling dominant kelemahan krisis kepercayaan diri kita dari sisi budaya. Karena itu kita lebih yakin dan percaya pada orang amber daripada orang Papua sendiri. Indikasi ini dapat diamati pada budaya dekat laut.

Kalau orang Ambon atau orang Jawa ngomong karena mereka mengajar kita agama dan sekolah maka kita menganggap segala kebaikan dan kebenaran ada padanya dengan mengabaikan kebaikan dan kebenaran diri sendiri, ini sesungguhnya sangat berbahaya bagi self of confident (kepercayaan diri sendiri sesungguhnya mampu dan lebih bisa dari orang luar) berangkat dari mengagung-agungkan tidak dari dalam sendiri tapi itu dipercayakan pada yang dari luar diri sendiri, musibah krisis kepercayaan diri bermula disini.

Seorang Papua dari Pegunungan Tengah dianggap kurang sanggup karena itu tidak diakui sebagai kebenaran dan kebaikan hanya lantaran nilai-nilai baru duluan diterima lewat transportasi laut dari penjajah dengan berbagai istilah bagi penduduk asli di pegunungan maupun dihulu sebagai kanibal, primitif dan akhinya pedalaman. Stigmatisasi demikian sudah terinternalisasi dalam proses awal transformasi nilai-nilai baru di cekoki pada orang Papua sejak kehadiran pihak asing menjadi melekat dan terbenarkan sebagai sugesti dan hingga hari ini terus berlangsung.

Kelemahan konsolidasi dan koordinasi atau secara sistematis Papua dapat melahirkan tokoh kepemimpinan yang memiliki kapasitas dan kualitas sehingga dapat diterima kepemimpinanya adalah oleh akibat intervensi budaya Papua oleh budaya asing. Oleh sebab perlu dipikirkan kembali upaya rekayasa ulang untuk mencari dan mempersiapkan pemimpin Papua yang baru untuk mengisi krisis kepemimpinan dewasa ini.

Beberapa kelemahan yang penting disadari kita adalah :

1. MORALITAS

Soal moralitas adalah kekurangan dan kelemahan paling utama mau ditempatkan disini, bukan karena orang Papua jarang pergi ke Gereja, atau ke Masjid, bukan pula karena orang Papua kurang percaya pada Tuhan. Orang Papua banyak yang berdo'a baik pagi maupun menjelang malam hari, orang Papua banyak yang sembayang/sholat dan puasa tetapi yang tidak sedikit pula orang Papua menegak minuman keras, main perempuan (bukan isterinya sendiri), anak-anak remaja bergaul bebas (free sex). Bukan ini yang mau dimaksudkan disini dibawah judul kecil ini.

Walaupun soal ini adalah soal penting juga namun tugas untuk menyampaikan ini adalah para Pendeta, Pastor, dan Ulama. Dan yang paling penting adalah upaya pembinaan sejak dini dari dalam keluarga sendiri itu lebih penting dalam soal yang dimaksudkan diatas. Kalau berbicara soal moralitas selain yang di sebutkan diatas banyak lain lagi yang harus menjadi tugas rutin para pendeta, pastor dan ulama, diantaranya, korupsi para pejabat, perselingkuhan para ulama sendiri, pemerkosaan para ustadz sendiri, korupsi oleh para pendeta dan para pastor sendiri yang menduduki jabatan publik bukan hal baru bagi kita.

Tapi Moralitas yang dimaksudkan disini lebih pada budaya malu pada diri sendiri. Kita harusnya malu kalau tidak percaya pada diri sendiri, pada budaya sendiri, pada orang sendiri, bukan percaya pada ortang asing, amber dan para pembawa ajaran kebaikan palsu yang asing dalam budaya kita. Karena itu saling percaya dan saling melindungi budaya dan orang sendiri adalah kelemahan moral bobrok kita. Kita menghianati kesepakatan bersama dengan menerima Otonomi khusus Papua, kita mau menerima menjadi atau menjalonkan diri sebagai calon pejabat yang dipromosikan oleh penjajah, yang sesungguhnya itu sebagai alat memecah belah semangat juang kesatuan dan persatuan untuk menuju Papua Damai, Papua Merdeka.

Ketua PDP meninggalkan posnya dengan menerima komisaris PT Freeport, Wakil ketua PDP, meninggalkan posnya dengan menerima jabatan sebagai MRP, buatan kolonialis, Yap salossa (Gubernur era Otsus Papua Pertama, Almarhum 2006) menjalonkan diri jadi Gubernur Papua dengan meninggalkan PDP sebagai anggota Panel. Yoris Raweyai meninggalkan posnya dan berkampanye NKRI dari Jakarta setelah menjadi anggota DPR RI dari Golkar, kembali mencalonkan diri disaat rakyat dan beberapa organ perjuangan masih menentang pembentukan Propinsi IRJABAR, malah mencalonkan diri sebagai Gubernurnya dengan melawan semua sistem dan kesepakatan Papua Merdeka. Singkatnya semua anggota DPRD dan DPR RI DPD RI, Bupati di 38 wilayah pemekaran NKRI di Papua dewasa ini adalah mantan para sesepuh dan anggota PDP.

Mau menerima dan mencalonkan diri dalam jabatan apapun di era Otsus Papua adalah kelemahan moralitas yang saya dimaksudkan dari judul kecil diatas tulisan ini. Inilah sesungguhnya kita tidak patuh pada hati nurani kita sendiri tapi gampang mempercayai orang, menerima tawaran orang, kemauan orang, perintah orang semua yang barbau asing mudah kita terima dan membiarkan hati nurani kita adalah kelemahan moralitas bangsa Papua Barat. Kita bahkan mudah percaya mulut manis dengan iming-iming semua fasilitas dari kolonialis dengan mengabaikan kehendak diri sendiri untuk berdaulat, Papua Merdeka. Inilah yang mula-mula terjadi pada para tokoh dan elit pemimpin Papua di tahun 1940-an dan 1960-an.

Beberapa Tokoh dan kepala suku di bawa keliling Indonesia oleh Soekarno, diberi minum beer, disuguhi paha putih ( perempuan WTS?), dan jalan-jalan menikmati hiburan mewah dengan keliling Indonesia. Kita tahu ini semua tapi kita kembali menghulanginya dan terus akan mengulangi adalah kelemahan moralitas orang Papua. Mentalitas kita adalah mentalitas budak. Karena itu mentalitas kita rapuh, tidak kokoh, mudah diintervensi, gampang dibujuk, lemah terhadap tawaran nilai baru dan gampang diatur-atur orang asing, amber, mudah diperintah-perintah orang lain dan kita mau juga melaksakan perintahnya dengan kemasan tawaran menggiurkan, wanita, uang, dan jabatan. Ini semua adalah kelemahan dan bobroknya moralitas manusia Papua yang berlangsung pada masa lalu, kini dan akan datang (?).

Manusia Papua tidak memiliki prinsip sendiri, tapi menganut dan menerima prinsip para penjajah dengan mengabaikan keutamaan nilai sendiri, tidak menghargai budaya sendiri.

2. PENDIDIKAN

Kita tahu bahwa dalam masyarakat manapun didunia para penjajah tidak mau atau tidak rela negeri jajahannya, para penduduknya berpendidikan apalagi memberi pendidikan. Kondisi ini terjadi juga di tanah air kita Papua. Penjajah tidak pernah membangun infrastruktur serta supra struktur yang memadai untuk meningkatkan kualitas pendidikan yang baik dan bermutu, bagi anak negeri Papua. Kenyataan kondisi saat ini di Papua terutama didaerah pegunungan Tengah Papua menjadi saksi paling telanjang, bahwa dalam era abad ke 21 yang super modern ini kita menyaksikan - atau kita sebagai bagian dari mereka -masih ada masyarakat yang kehidupannya masih primitif alias tanpa pernah mengenyam bangku pendidikan.

Sekalipun kondisi saat ini agak ada perbaikan, dengan adanya banyak lembaga pendidikan, secara kualitas dan kuantitas belum memenuhi standar kelayakan pendidikan bermutu. Apalagi jika kita sejenak mengingat kembali dalam era tahun 1960-an-1970- an kita dapat menyaksikan keadaan yang sangat memperihatinkan generasi kala itu. Mungkin Alex Hesegem (Wakil Gubernur) bisa seperti sekarang bukan menamatkan pendidikannya di Kurima tempat kelahirannya (Kurima kini termasuk Kab. Yahukimo). Karena hal itu tidak memungkinya sang Wagub yang anak kepala suku ini.

Jika dibandingkan kondisi sesungguhnya keadaan lembaga pendidikan tahun 70-an kita sulit membayangkan, betapa tidak seorang siswa SD YPPK/YPK (lembaga pendidikan kristen yang dibangun para missionaris), untuk melanjutkan SMP jaraknya antar propinsi ukuran di Jawa. Apalagi SMA belum ada kecuali harus ke Jayapura, ukuran di Jawa antar negara, sebanding ke Singapura atau, ke Malaysia atau mungkin ke Brunei Darussalam. Perguruan tinggi hanya satu di UNCEN sampai sekarang ini. Perbandingannya jika di Kurima satu sekolah dasar terdaftar 100 orang siswa, maka semua siswa dapat dipastikan gugur dan tidak melanjutkan tingkat lanjutan SMP di sebabkan jarak sekolah tingkat lanjutan yang sangat jauh dan tidak dapat terjangkau oleh siswa.

Hal ini disebabkan oleh kebiasaan watak dari pemerintahan kolonialis dimana-mana karena merasa takut dan khawatir penduduk negeri jajahannya kalau tahu hak dan kewajibannya akan berontak pada pemerintahan kolonialis yang sah. Maka untuk itu biasanya penjajah berusaha membuat bodoh penduduk anak negeri jajahan. Hal demikian juga dilakukan Belanda pada bangsa Indonesia selama 300 tahun penjajahannya di Hindia Belanda.

Disini kita semua rakyat Papua menjadi maklum jika kualitas dan pelayanan pendidikan buruk dan tidak memenuhi standar pendidikan semata-mata disengaja oleh penjajah dan bagian alat politik pendidikan dengan tidak menyediakan pendidikan lanjutan, sehingga anak negeri jajahan menjadi terbelakang dan tetap bodoh tanpa menuntut apa-apa dari kejahatan terselubung dengan kedok kebaikan memajukan dan membangun penjajah agar lebih beradap sesuai standar dan selera budaya penjajah.

Karena itu misal kasus di Pegungungan Tengah tadi siswa yang menamatkan SD katolik di Kurima tidak dapat melanjutkan pendidikan tingkat lanjutan kecuali mereka harus pindah ke Mulia yang belum samasekali ada kenalan. Namun dari sampel 100 siswa kalau ada juga yang menempuh jarak ratusan kilometer untuk melanjutkan tingkat lanjutan SMP, maka perbandingannya dari 100 siswa hanya dua-tiga orang siswa, tapi jika mau melanjutkan SMU/SMA dimana? Sekolahnya tidak ada, alias pemerintah tidak menyediakan tingkat lanjutan untuk tiga anak tadi agar bisa melanjutkan tingkat lanjutannya, otomatis gugur semua.

Belum lagi muatan yang bias hegemoni budaya mereka yang asing dalam budaya sendiri. Dalam salah satu penelitian yang dilakukan oleh LP3S, menemukan kasus pengajaran anak-anak SD di Papua dengan kurikulum yang sudah dipaketkan dari Jakarta. Siswa SD di Papua bingung tatkala guru membacakan dan siswa secara bersama harus mengikuti dalam pelajaran latihan membaca. Tatkala guru membaca : INI BUDI, INI WATI, siswa Papua, mengira BUDI dan WATI itu makluk seperti apa, hewan kah, sapi, atau barang seperti apa, sebab nama-nama itu begitu asing ditelingga mereka dan dalam lingkungan budaya mereka sehari-hari sendiri.

Belum lagi kualiats tenaga guru, buku-buku, kurikulum, buku pedoman, hingga tulisan ini ditulis kondisi ini masih berlangsung disejumlah daerah terpencil di seluruh Papua. Ini artinya apa? Bahwa untuk menuju Papua Merdeka atau Papua Damai, kenyataan kita hadapi dengan mayoritas penduduk dengan angka hampir 90 % penduduk Papua tidak dapat baca tulis alias buta aksara. Logikanya jika dalam era tahun 70-an misalnya ada seorang pemuda yang ganteng datang dari Negeri Belanda, dia seorang mahasiswa di Universitas ternama dan terutama di negeri itu. Nama pemuda dari pulau Serui itu adalah Frit Kirihio (pemuda itu kini tinggal menetap di Jakarta sebagai orang tua pengangguran) . Dia datang ke istana Bogor menemui Soekarno untuk tujuan penentuan nasib sendiri Papua Barat. Kalau benar bisa kita merdeka kala itu sekarang sudah bagus atau seperti apa, kita belum pernah dapat membayangkannya, namun kondisi itu masih berlanjut hingga dewasa ini tanpa ada perubahan yang significant.

Kita sulit membayangkan juga kualitas para aparat yang mengisi jabatan instansi pemerintahan kala itu, kira-kira seperti apa? Persis seperti Indonesia, banyak korupsi. Jangankan zaman itu, di zaman ini saja, Contoh kala kita terima otonomi khusus dalam era ini banyak sekali ijazah palsu atau mereka yang menyelesaikan pendidikannya dengan ijazah persamaan setelah menjadi pejabat publik yang bergengsi. Kita jangan lupa Gubernur kita sekarang pelantikannya berlarut-larut hanya masalah ijazah. Kita belum punya data kepastian ada tidak PNS kita di Papua yang buta huruf, tapi keyakinan saya ada banyak didaerah Kabupaten pemekaran baru.

Kita kembali kesoal pendidikan, bahwa kenyataanya negara penjajah sering menerapkan kebijakan ganda, pada negeri jajahan mereka termasuk dalam hal ini di Papua Barat agar penduduknya tidak berpendidikan dan tidak mengetahui sehingga tidak banyak menuntut, atau membongkar kedok kejahatan kolonialisme mereka yang sangat mematikan masa depan negeri jajahan. Mentalitas depedence atau ketergantungan mulai dari ketiadaan kecerdasan berfikir secara obyektif rasional. Upaya kecerdasan rakyat dimatikan dengan membiarkan orang-orang jajahan hidup tanpa pendidikan. Anak-anak negeri jajahan paling tinggi berpendidikan sampai SMA atau kalau mengeyam perguruan tinggi dengan kurikulum dan pengajaran serta buku standar di paketkan pihak penguasa. Hal ini terus berlangsung di tanah air Papua cukup memprihatinkan semua kita. Apalagi ada MKDU, tentang antropologi, sebagai mata kuliah wajib semua jurusan yang diajarkan di Uncen karangan Koenjraningrat tentang mitologi kurang ilmiah, bahwa orang Papua pernah berkeliaran di daerah Jawa Timur, untuk apa ini semua dengan kedok ilmiah? kelanggengan kolonisasi penjajah.

Penulis sengaja mengemukakan semua kelemahan ini bukan semata-mata membuka kedok sendiri tapi memenuhi tujuan judul tulisan tentang beberapa kelemahan bahwa esensinya, kelemahan itu ada diseputar pendidikan. Artinya masyarakat kita dalam banyak laporan menunjukkan tingginya angka buta aksara alias banyak yang tidak tahu baca tulis terutama di daerah pegunungan tengah Papua sejak dulu hingga dewasa ini masih berlangsung. Tujuan menyinggung soal pendidikan disini untuk membuktikan bahwa kelemahan orang Papua sebagai diutarakan diatas nyata adanya. Sehingga ada perhatian semua pihak terutama pemerintah daerah sendiri, bahwa untuk menuju Papua damai, soal pendidikan adalah amatlah mendasar. Dengan memberi rekomendasi penulis menghimbau bagaimana mengatasinya adalah usulan yang sangat perlu diperhatian para Bupati, dan Gubernur, bahwa dalam era Otsus dengan kelimpahan banyak rupiah yang mengalir ke Papua lebih banyak di alokasikan pada sektor pendidikan, dengan memberi beasiswa, baik didalam negeri maupun di luar negeri.

Jika Papua mau keluar dari kelemahan dan kebodohan akibat banyak tidak berpendidikan atau buta aksara, usulan saya, bahwa lembaga pendidikan dengan fasilitas lengkap, dan guru adalah faktor utama peserta didik dapat berhasil guna mempersiapkan anak-anak Papua kelak untuk membangun diri, negeri dan bangsanya penting bukan dipikirkan saja tapi langsung dikerjakan sekarang oleh para Bupati. Masing-masing Bupati secara periodik dapat mengirim anak-anak Papua disejumlah negara Eropa, Amerika dan Australia, Jepang dan Korea. Sepulangnya mereka sudah dapat melakukan berubahan besar ditanah air adalah harapan dan kepastian jika investasi pendidikan ini diperhatikan. Gubernur dapat mengumpulkan para Bupati dan mengintruksikan agar masing-masing Kabupaten dapat mengirimkan putra-putri terbaiknya di sejumlah negara Eropa, Australia dan Asia atau Amerika/Latin. Bagian ini saya sudahi dengan rekomendasi untuk diperhatikan oleh Gubernur dan segera mengintruksikan para Bupati agar sesegera mungkin mengutus duta pelajar anak-anak Papua di berbagai negara dalam berbagai jurusan keluar negeri.

Agar kelemahan-kelemahan (baca bagian I) antara moralitas dan pendidikan sebagai penting sehingga sebagai penyebab utama yang meruntuhkan sikap independensi menjadi lemah, mudah tergoda dengan kenikmatan yang sesaat adalah sikap kelemahan oleh akibat kurangnya moralitas dan pendidikan di Papua. Umumnya oleh akibat kebijakan nasional penjajah menyebabkan rakyat kita di Papua Barat menjadi buta politik, dan implikasinya depedence sikap dan kecenderungan kita lemah. Karena itu polityic education, oleh berbagai lembaga keagamaan, dan organisasi kepemudaan lainnya penting terus di lakukan terutama Front Pepera, AMP, BEM, HMPJ, AMPTPI dan lain-lain harus terus di lakukan di lapisan masyarakat paling bawah (grass root).

Dalam sektor lain kita juga selama ini kurang menyadari, tapi ini harus diketahui bahwa ada kebijakan tidak populer penjajah menerapkan kebijakan nasionalnya untuk membuat sikap kita merasa butuh terus kehadiran penjajah adalah dengan cara semua sarana produksi dan industri kebutuhan bahan-bahan pokok dibuat di negeri seberang. Kondisi saat ini belum ada induntri atau pabrik pakaian, makanan atau minuman, kita bisa mendapatkannya dengan biaya yang sangat mahal.

Hal ini diperparah lagi dengan kolonisasi para kolonialis dengan membuat kebijakan nasionalnya dengan penyediaan bahan-bahan pokok semua didatangkan dari negeri penjajah diseberang lautan adalah bagian dari usaha sistematis menjauhkan anak negeri dari aspek lalulintas pergaulan dunia. Kebutuhan pokok misalnya sandang, papan, dan pangan tidak dicoba disediakan oleh anak negeri, semua di sediakan diluar adalah upaya-upaya yang kita maksudkan dengan upaya pembosaian atau pengkerdilan suatu daerah dari pergaulan lalulintas manusia lain di wilayah jajahan. Mentalitas kita menjadi dan dibuat oleh penjajah sesuai dengan rencananya menjadi ketergantungan yang berlebihan (dependent) kepada penjajah.

KAPANPUN PAPUA TETAP MERDEKA
Komunitas Papua - Sehubungan dengan tercegahnya "sementara" aspirasi Papua Merdeka di senat Amerika Serikat, yang sementara pihak pemerintah Republik Indonesia "bersuka cita" atas keberhasilan lobby mereka saat ini. Tidaklah berarati "berduka hati" atau patah semangat bagi bangsa Papua. Sebab dimanapun kebenaran akan terbukti menang, artinya saya ingin mengatakan bahwa besok, lusa atau nanti Bangsa Papua akan tetap memperoleh Kemerdekaanya adalah sesuatu yang pasti, atau Papua tetap akan Merdeka dan lepas dari Penjajahan NKRI adalah suatu keniscayaan (natural law).

Barangkali tulisan ini bukan hanya sekedar menghibur, akan tetapi ingin memperjelas sedikit, bahwa secara taktis Amerika untuk sementara boleh saja menghapus agenda mereka atas masalah kita (tentang Papua), namun kita harus tahu bahwa semuanya berdasarkan kepentingan sementara pemerintahan yang berjalan. Disamping itu sesungguhnya yang paling penting bagi kita saat ini adalah bagaimana upaya rekonsiliasi serta konsolidasi berbagai friksi dan faksi, sehingga anak-anak bangsa Papua bergerak dalam satu soliditas yang padu. dibawah satu payung dengan menghilangkan berbagai dikotomis yang ada antara lain; antara orang gunung dan orang pesisir, antara orang tanah besar dan orang pulau, antara berbagai pemeluk agama,dan terakhir antara penduduk asli dan pendatang atau anak keturunan.

Mengapa? Karena itu adalah potensi kekuatan kita.Dengan demikian adalah penting untuk segera mengakhiri dikhotomi yang bisa dapat menyebabkan potensi komflik internal antar kita, yang itu dapat mengakibatkan terciptanya insoliditas antara kita di Papua saat ini. Disamping itu potensi sosial politik dalam berbagai dimensinya harus tetap dijaga agar tetap harmonis, mengingat katarakter boulding yang disebut dengan nasionalisme yang demokratis dapat diletakkan dari dasar fundamentalnya adalah pluralisme yang kita miliki saat ini.

Penulis yakin dan percaya bahwa semua potensi anak bangsa Papua kini sedang menempuh pendidikan diberbagai jenjang baik di Papua sendiri maupun di daerah lain Indonesia akan terus bergerak dalam skala yang lebih padu dan kompak sebagai konsekuensi logis akan sikap dan daya kritismenya sebagai orang-orang terpelajar. Dan itu akan mendorong percepatan proses pelepasan Papua dari politik aneksasi Indonesia atas tanah Papua dalam waktu yang akan datang.

Dengan aksi terus-menerus nantinya akan lebih cepat mendorong untuk keinginan untuk memisahkan diri dari NKRI. Hanya saja untuk kedepan anak-anak bangsa Papua yang penting diperhatikan adalah bahwa kesatuan dan persatuan sikap kompak berbagai latar belakang yang sudah ada ini terus dijaga kekompakannya. Karena itu sebagai kunci kesuksesan nantinya bagi kita.

Dan untuk membangun masyarakat yang maju, beradap dan demokratis kita bukan saja harus menjaga kesatuan dan persatuan bangsa Papua yang beraneka ragam latar belakang dan peradaban tetapi adalah suatu hukum sosial dalam konteks zaman manapun dan dunia negara apapun adalah niscaya adanya keanekaan penduduk bila ditinjau dari berbagai aspeknya.

Yang Paling dikhawatirkan penulis saat ini adalah kalau jika ada sebahagian teman-teman gunung yang tetap berjuang dihutan-hutan sebahagian teman teman pesisir atau pulau datang ke-Jakarta urus pemekaran atau promosi jabatan, dan sebaliknya teman-teman pendatang, bugis-buton-makasar dan imigran sipil dari Jawa malah apatis dengan orang bicara Papua M, dan mungkin teman-teman muslim merasa lebih nyaman bila dalam NKRI yang mayoritas Muslim.

Kalau sudah begini bagaimana kita bersatu dan berjuangya, untuk papua yang satu-padu dalam satu irama keharmonisan Papua yang demokratis? Yang jelas jaminan penulis adalah bahwa biarpun tidak oleh kita, anak kita, cucu kita, anak cicit kita sampai seterusnya, atau sampai kapanpun Papua pasti akan Merdeka lepas dari NKRI adalah hukum alam (natural law). Jadi kita tidak harus selamanya berharap pada orang lain, (bukan Amerika yang buat kita Merdeka. Ingat !!!

'Tuhan tidak merubah nasib suatu kaum sebelum kaum itu mau merubah nasibnya sendiri'. Kuncinya hanya satu, Persatuan dan Kesatuan antar komponen Komunitas Papua yang solid dan padu.

DAP DAN DEMOKRASI

DAP : "Babak Baru Demokrasi Di Tanah Papua"

Adalah Dewan Adat Papua, disingkat DAP. Mengundang Gus Abdurrahman Wahid atau Gus Wahid ke Papua untuk memberikan pengghargaan kepada Sang Kiayi Haji yang telah buta saat menduduki Peresiden RI ke tiga. Dalam laporan situs kesayangan Orang Papua, (komunitas-Papua) melaporkan beberapa alasan yang membuat DAP, bahwa mengapa harus memberikan pengghargaan (apresiasi) kepada Sang demokrat Ulama yang "Nyeleneh", atau "nyentrik", karena memang Gus-Dur suka membuat yang aneh-aneh bagi kalangan yang mengaguminya. Diantaranya alasan pengganugerahan dan undanagn Gus-Dur didatangkan ke Papua itu adalah sebagaimana kutipan berikut ini.

"Sebagai apresiasi dan wajud rasa terima kasih masyarakat Adat Papua atas berbagai kebijakan yang dirasa telah memberikan sumbangsih bagi kehidupan demokrasi dan penegakan HAM di Tanah Papua,..." (www.komunitas- papua.com, 13 Nov 2006 - 05:54 AM.)

Maka sanagat wajar bahwa DAP kembali mengundang Sang Pepimpin Islam Tradisional Jawa ini, datang ke Papua, guna mendorong proses demokratisasi di Tanah Papua, yang dirasakan kini kembali tercerabut dari fondasi akar-akar demokrasi yang diletakkan (ditanamkan) Gus-Dur selama menjadi Presiden bersama Theys Hiyo Eluy serta sejumlah tokoh PDP. Maka dalam rangka memperingati hari wafatnya, "pahlawan Nasional papua", Mantan ketua umum PDP, Almarhum Bapak Theys Hiyo Eluay, sebagai martir dan tumbal ditangan Militer Indonesia (lima tahun silam), dalam penegakan demokrasi di Indonesia dan di Tanah Papua.

Kini di Papua akar-akar demokrasi yang telah ditanamkan lima tahun silam itu, kembali digerogoti oleh dominasi kekuasaan Militer Indonesia, dan pengotrolan secara ketat dalam pemerintahan Otonomi Khusus di Papua, menjadi alasan lain yang dikemukakan. Kiay Haji, Abrurrahman Wahid (Gus Dur), dianggap oleh DAP, sebagai sosok seorang demokrat tulen yang pernah berhasil menjadi Presiden RI. Dan yang sangat memperhatikan Papua dan selalu berpihak atas kepentingan minoritas Indonesia yang tertindas. Bahkan keberpihakannya akan penegakan demokrasi di Indonesia, perhatiannya cukup besar pada Papua. Selama menjabat Presiden RI, Gus Dur memberikan bantuan dana untuk penyelenggaraan Kongres ke II di GOR Port Numbay, dan mengganggap Bintang Kejora, Hai Tanahku Papua, adalah lambang kultural yang diizinkan untuk orang Papua menggunakannya.

Demikian besar jasa-jasa Gus-Dur atas Papua, maka ini menjadi masuk akal bagi kita bahwa DAP menganggap perlu untuk membuka kembali kran demokrasi yang kini telah tertutup kembali oleh akibat hegemoni atau dominasi militer pasca kepresidenan Gus-Dur. Maka secara trategis DAP, berhasil dan mampu membaca dengan mengundang Gus-Dur datang ke Papua untuk melakukan reposisi guna melakukan perbaikan-perbaikan atas kekeliruan pemerintahan despotis pada masa silam yang kembali terlihat di Papua dan gejala-gejalanya telah muncul kembali yakni dengan adanya super ketat pengamanan militer Indonesia pada obyek-obyek vital birokrasi Papua semisal RRI, TVRI, TELKOM, DOLOG, DEPKEU, dan beberapa perusahaan asing seperti Freeport, Britis Petrolium.

Arti Kehadiran Gud-Dur, minimal mencegah atau menimalisir pemerintahan despotisme masa lalu dan mengantisipasi gejala munculnya kembali, maka kehadiran Gus-Dur ke Papua dengan sendirinya dapat membawa angin segar kembali bagi penegakan demokrasi di Tanah Papua termasuk Indonesia dan membuka mata kembali akan demokrasi Indonesia dan masa depan Papua sekaligus. Kita mengapresitif betul akan niat dan itikad DAP cukup menjajikan dalam "Babak Baru Demokrasi Ditanah Papua" ini. Karena itu DAP mengundang KH. Abdurrahman Wahid dengan mengangap bahwa Gus-Dur adalah hanya satu-satunya hati nurani masyarakat Adat Papua. Bahkan lebih lanjut dia dianggap tokoh Politik Indonesia yang mampu mendengar, jeritan suara hati rakyat Papua yang paling dalam. Demikian sejumlah laporan terutama situs komunitas Papua melaporkan sebagaimana dikutip terbaca berikut ini. "Selain memberikan angin segar bagi penegakan HAM di Tanah Papua, Gus Dur juga dinilai membangun kesadaran dan tanggung jawab bersama dalam menegakan kehidupan demokrasi di Tanah Papua, serta membangun persepsi tentang pembangunan yang dimulai dari kampung. Hal yang lain DAP juga menilai Gus Dur menghormati hak-hak asasi manusia setiap orang, secara khusus orang Papua." (Ibid)

Oleh sebab itu para petinggi Papua yang kini menggunakan "payung" DAP, yang umumnya para petinggi PDP, kita kenal. Walaupun tidak lagi seaktif dan seprogresif dulu. Namun dalam memperingati hari kematian tokoh Nasional Papua, yang oleh Gus Dur, disebutnya sebagai tokoh demokrat dan sahabat sejatinya dalam memperjuangkan demokrasi Indonesia itu. Maka tidak kurang dari tokoh-tokoh seperti Thom Beanal, Thoha Al-Hamid yang keduanya sebagai ketua dan sekjen PDP, mulai turun gunung untuk menyambut kedatangan sekaligus memberikan penghargaan kepada KH. Abdurrahman Wahid yang dianggap berjasa mendorong demokratisasi di Tanah Papua. Memang demikian agaknya, bahwa acara senggaja dirangcang panitia, yakni Fadal Al-Hamid, selaku ketua DAP, guna menghadirkan dan mengundang Gus Dur, datang ke Sentani Jayapura Papua, untuk melakukan peletakan batu pertama di kuburan Almarhum Teys Hiyo Eluay, sekaligus pengganugerahan awards yang direncanakan panitia sebelumnya, sebagaimana berita kutipan berikut ini.

"Beliau peduli pada masyarakat Papua dan menghargai demokrasi," kata Fadal dalam keterangan persnya di Kantor DAP yang berkududukan di Waena, Jumat (10/11) kemarin." Karena itu lanjutnya;"...Maka DAP akan mengganugerahi awards kepada Gus Dur." (Ibid)

Demikian situs kesayangan (baca, kebanggaan) kita, Komunitas papua dan dan media sejenis melaporkan. Dalam sambutannya yang sangat "dibatasi", kecuali hanya dua kalimat. Selengkapnya laporan itu demikian. "Setelah sampai di pemakaman Alm. Eluay, Gus Dur hanya diberi waktu mengucapkan dua kalimat, Pertama, bahwa "Theys Eluay adalah teman seperjuangan dalam penegakkan HAM..." dan kedua, "perjuangannya itu bukan hanya untuk orang Papua, tetapi untuk semua teman-teman ..." begitu sedang berbicara, tiba-tiba langsung dihentikan. SPMNews sendiri berdiri dalam jarak 3 meter dari beliau tetapi tidak dapat melihat siapa tangan jahil yang sedang menghentikannya. " (Lihat : WPNews HQ pada 13 Nov 2006, 10:27).

Padahal Gus Dur ingin banyak bicara. Namun karena beliau dilarang bicara ditempat itu. Maka banyak hal yang diurungkan, terutama gagasan-gagasan khas seorang intelektual dan aktifis demokrat nomor satu Indonesia yang berlatarbelakang islam tradisional yang sangat dikenal itu. Bahkan pemikiran dan akitivitas politiknya mampu melampaui kebanyakan sarjana didikan barat dan kebanyakan intelektual muslim Indonesia pada umumnya.

Maka wajar Gus Dur dikatakan sosok yang senang berbicara. Sebab sarana ekspresi pemikiran seseorang dapat diketahui kalau bukan lewat tulisan, pasti lewat lisan (oral). Sebagaimana terbaca dalam kutipan berita berikut ini; "Karena, Sosok Gus Dur yang senang berbicara itu hanya dibatasi dengan kalimat yang perlahan, tetapi tidak panjang pula". Sehingga semua harapan dan impian banyak yang tidak terungkap. Jika saja dia memiliki kesempatan berbicara banyak, sebagaimana layaknya dalam sambutan beliau selama ini dilain tempat. Maka tidak banyak bahan renungan yang dikeluarkan di atas pusara sahabatnya, yang telah mendahuluinya untuk beristirahat panjang, sebagai sesama pelopor demokrat sejati Indonesia, sebagaimana diakuinya sendiri oleh Gus Dur.

Karena disini agaknya Gus Dur banyak mendapatkan hambatan untuk berbicara. Kecuali itu, selebihnya KH. Abdurrahaman Wahid seorang ulama yang demokrat atau Kiyai Haji yang berasal dari Jawa Timur ini diberi kesempatan untuk berbicara dengan thema yang "agaknya" disiapkan oleh Pemerintah Propinsi Papua, yaitu :'pembangunan demokratis yang dimulai dari kampung'. Dalam pada itu secara serta merta sebagaimana ala Gus Dur. Hanya beberapa kata dari dua kalimat yang di lontarkan oleh Gus Wahid, dan sempat terucapkan, yakni; keinginan dan harapannya agar Theys di jadikan sebagai pahlawan Nasional, atas jasa-jasanya ikut serta memajukan demokrasi Indonesia. Sehingga Theys layak diangkat sebagai pahlawan Nasional sebagai seseorang yang bersamanya telah berjasa memperjuangkan demokrasi Indonesia, dan ia martir di tangan militer karenanya.

MENEMBUS BATAS MENTALITAS LEMAH DAN BUDAK

Sungguhpun kita bebas, kemerdekaan makna hakiki kemanusiaan manusia. Tapi sebagai komunitas, sebagai komponent, sebgai suku, sebagai, adat kita akhirnya juga tetap saja kita terikat dengan ikatan primordialisme, sebagai bangsa, suku dan adat. Hal demikian, mungkin termasuk juga dengan perjanjian parah tokoh agamawan yang menyatakan bahwa Tanah Papua sebagai zona damai.

Namun sebagai manusia bebas, apalagi orang muda yang penuh gejolak dan semangat perjuangan untuk pembebasan Tanah Airku Papua Barat, merasa ada yang ingin disampaikan beberapa hal disini, untuk dipertimbangan kembali tapi tidak untuk diikuti, karena ini bukan anjuran, hanya sekedar mengingatkan dampak tidak langsung dari akibat apa yang oleh para tokoh PDP, "Perjuangan Damai", dalam pembebasan Papua.

Padahal untuk menciptakan Papua sebagai zona damai harus dengan perlawanan. Karena kenyataan sesungguhnya Papua tidak damai adanya selama tidak pernah ada kedaulatan. Herankah pembohongan para tokoh PDP ini? Papua sebagai zona damai, dan ketetapan para tokoh PDP, bahwa perjuangan Papua Merdeka ditempuh dengan perjuangan damai. Oleh sebab itu sekarang dan selanjutnya kita menempuh perjuangan Papua dengan cara-cara damai, sebagaimana yang diharapkan para tokoh PDP, agar sesuai dengan anjurannya.

Tapi sadarkah kita bahwa masing-masing keputusan selalu memiliki konsekuensinya sendiri? Konsekuensi yang dimaksudkan disini adalah menciptakan sikap lemah dan kalah. Maksud sebenarnya, karena itu, ini paling berbahaya, apalagi masih hidup, dipelihara, dan masih bernapas pada abad mutakhir diera ilmu pengetahuan dan tekhnologi ini untuk memelihara makluk yang namanya perbudakan, manusia dengan mentalitas budak, takut, rendah diri, dan memelas kasihan.

Demikian penilaian saya sebagai orang awam bahwa, konsekuensi tidak langsung keputusan "Papua Tanah Damai", oleh para pemimpin Presedium Dewan Papua (PDP), sama saja dengan perbudakan manusia Papua dan menjauhkan mereka dari diri mereka, tidak mengembangkan diri, budaya sendiri, dalam mempertahankan perampasan hak dan kemerdekaan hidup, memepertahankan harga diri mereka, "perjuangan Damai", sama dengan menjauhkan mereka dari diri mereka, untuk hidup ternista oleh penjajah yang kejam menjajah dengan "kekerasan".

Menyatakan Perjuangan Damai, nyatanya kita masih saja mau melanggengkan dari penghapusan sistim buruk yang tidak manusiawi antar sesama manusia, perbudakan manusia oleh manusia. Padahal perbudakan sudah dihapus ratusan tahun yang lalu, karena itu tidak boleh ada makhluk yang namanya PERBUDAKAN, apalagi itu di Papua yang dengan latar belakang budaya mereka yang yang tahu harga diri, dan penguasa-penguasa alam yang tangguh.

BUDAYA PAPUA

Perlawanan dengan cara yang ditetapkan para tokoh agama Papua dapat berdampak menciptakan mentalitas manusia Papua budak dan lemah. Dipandang dari sudut budaya Papua ketetapan dan pesan moral para PDP (yang dominan para agamawan), sesungguhnya sangat bertentangan. Padahal menurut saya agama adalah gejala baru bagi orang Papua. Orang Papua mayoritas bermukim di Pegunungan Tengah Papua masih menjaga adat mereka.

Orang Pegunungan Tengah masih sangat berat dan erat kuat pengaruhnya dalam adat mereka terus berlangsung kini. Mereka masih menghayati nilai-nilai utama leluhur mereka dengan perang sebagai sendi kehidupan dan kesuburan. Misalnya di Wamena, Suku Dani, perang memegang peran sentral dalam tatanan nilai kehidupan sosial agama, ekonomi dan politik. Agama bagi mereka adalah perang.

Karena itu "Walowak", adalah kematian asal yang selalu meminta dan menuntut tumbal. Tuntutan dan permintaan pembalasan sebagai tumbal oleh Walowak, menjadi lembaga keagaman adat dan kepercayaan (religi) yang disebut dengan Kaneke. Kaneke yang disimpan Honay adat, tabu, suci, karena itu bagi perempuan, anak-anak tidak dapat masuk Honay sebagai lembaga adat. Ap Warek, adalah jumlah tumbal korban yang selalu tersimpan rapi di honay.

Walowak selalu menuntut pembalasan untuk menjaga relasi dengan arwah leluhur, kesuburan, keberlangsungan exisntence marga, dan hidup. Perang bagi suku Dani erat hubungannya dengan keberadaan diri, eksistensi. Perang bagian dari adat dan nilai adat masih dihayati orang Dani di Lembah Baliem, mereka menghayati nilai budaya mereka dalam masa kini.

Agama tidak begitu berpengaruh bagi mereka akan kepercayaan dan penghargaan mereka pada adat. Mereka juga sangat menghargai nilai kebaikan agama tapi pengaruh itu baru dalam tahun-tahun belakangan diera pembangunan ini. Hal ini tidak menghalangi mereka menghayati perang adalah bagian dari kepercayaan.

Perang bagi budaya Papua di Jayawijaya oleh Myron Bromly, seorang ahli agama sekaligus ahli linguis Papua dan antropolog asal Amerika dan terakhir tinggal di Tangma, Kurima (kini Kab. Yahukimo) dan sempat menerjemahkan Injil Matius dalam bahasa itu menyatakan; dalam menjelaskan perbedaan religi dan agama. Menurutnya dalam judul karangannya 'Religi Baliem Selatan' itu Perang bagi orang Dani, di Wamena adalah agama.

Perang dalam budaya Papua sama dan identik dengan agama bagi orang lain. Demikian pengamatan para ahli antropologi yang melakukan penelitian terhadap budaya dan kepercayaan (religi) pada masyarakat Pasifik utamanya di Papua Barat dan PNG menunjukkan hal ini. Karena itu perang bagi orang Papua bagian dari kesucian untuk memelihara nilai-nilai luhur dan kesuburan.

Perang selalu bersendi polytheisme maka perang agama adalah inti dari agama polytheisme dalam seluruh kebudayaan Papua sebagaimana laporan para ahli seperti Jan Boelaars, dengan sangat baik menggambarkan ini dalam agama tradisi mengayau di (Asmat, dulu Merauke) dan Perang suku Dani di Wamena.

BANGKIT MELAWAN

Pilih mana, Rakyat Papua, Tunduk Ditindas atau Bangkit Melawan! Perbudakan mentalitas kini terjadi pada diri orang Papua, oleh akibat keputusan PDP, dan yang didukung para agamwan yang menyatakan aman damai dalam perjuangan sangat berdampak sekali terlihat dalam diri orang Papua di masa ini dan kedepan bagi penciptaan mentalitas manusia Papua yang lemah dan takut. Dan ini sangat berbahaya bagi masa depan dan penghinaan manusia sebagai makluk Tuhan yang mulia antar sesama makhluk manusia.

Kuat dugaan saya ada kekeliruan para tokoh PDP, dan dukungan para agamawan dalam memutuskan keputusannya, "Perjuangan Damai". Tapi keputusan para PDP dan disetujui agamawan sebagai pesan moral, tentu kita hargai dan junjung tinggi, dan kita semua memakluminya. Hanya secara etika tidak ada paksaan dalam kebaikan untuk dianut semua betapapun kebaikan itu bermanfaat, karena kebaikan manusia selalu dan selamnya berdimensi, kebaikan subyektif yang relatif.

Karena itu diantara kita komunitas papua tidak boleh merasa terikat dengan keputusan para tokoh PDP yang moralis ini. Tapi sebagai tanggungjawab moralitas, pesan mereka tentu baik adanya, tapi tidak memaksakan karena disini berbenturan dengan soal hak asasi manusia. Etika Yunani mengajarkan, Benevolence diktatorhip misalnya atas dasar apa, dan sejauh mana, kebaikan, sekali lagi atas nama kebaikan, kebaikan golongan orang lain, mau dipaksakan kepada kita?

Kita sudah terlanjur memutlakkan sesuatu yang sesungguhnya relatif belaka. Relatifitas manusia selalu mengandaikan subyektifitas kebenarannya. Kebenaran sendiri bagi manusia adalah hanyalah kebenaran relatif yang dibatasi oleh tempat dan waktu senantiasa. Yang abadi adalah kebenaran itu sendiri. Panta rei, selamanya berubah, semua apapun yang duniawi selalu berubah, yang abadi adalah perubahan itu sendiri. Karena itu Perjuangan damai dalam pembebasan tanah Air Papua Barat, demikian dianjurkan para tokoh PDP ataupun mau disetujui para agamawan, bagi kita tidak harus mengikat.

Karena bertentangan dengan nilai dasar manusiawi, seperti pertanyaan etika Filsafat Yunani, perjuangan damai itu baik, tapi, betapapun perjuangan damai itu baik, atas dasar apa kita manusia memaksa kebaikan kita kepada orang lain? Apalagi hal itu betul baikkah bagi orang Papua? Atau benarkah perjuangan damai bermanfaat bagi orang Papua?

Tentu otoritas moralitas mereka berhak menyatakan ini, tapi tidak berhak memaksakannya kepada orang lain, apalagi akibatnya belum pasti benar dan bermanfaat baik bagi keberlangsungan mentalitas manusia, tapi hanya menciptakan mentalitas orang Papua budak, lemah dan kalah. Kita terlanjur memasarkannya tapi kita tidak secara bijaksana mempertimbangkan aspek lokalitas budaya yang kompleksitas dan tidak selalu sejalan dengan nilai kebaikan lain.

Suatu ketika pemerintah Indonesia, melarang perang suku antar sesama suku Dani di Lembah Baliem, Wamena. Orang Wamena, heran dan tidak percaya; Kalau kami dilarang perang kalau begitu, kami ini siapa?.

*** ***

SEJARAH PAPUA BERBEDA DENGAN INDONESIA

A. Sejarah Papua Adalah Sejarah Pertentangan Dengan Indonesia.

Menyamakan Papua sama dengan atau sebagun, sehingga sejajar dengan Indonesia pada zaman pemerintahan jajahan Hindia Belanda dulu hingga hari ini, adalah suatu kekeliruan besar yang dilakukan orang sekelas Fortuna Anwar. Dari judul kutipan wawancaranya; Furtuna Anwar, telah mereduksi sejumlah fakta dan sejarah Papua-Indonesia berhubungan dengan Belanda di satu pihak dan antara Belanda-Papua dipihak lain berhadapan dengan Indonesia. Upaya simplifikasi demikian sering dan selalu dilakukan dimana-mana oleh aparatur pemerintahan kolonialis manapun didunia.

Demikian pula yang dipertontonkan pikiran dan jiwa hipokrit seorang Fortuna Anwar, anggota kabinet Indonesia bersatu dalam pemerintahan SBY-JK, sehingga menjadi bias dan terkesan menjadi tendensius, harus menjadi kewaspadaan para pejuang HAM dan demokrasi terutama para pejuang Papua berhadapan dengan aparat pemerintah di negeri ini, bahwa ada upaya-upaya pemerintah Indonesia untuk berkelit, bahkan mau menghambat upaya dekolonisasi atas masa depan bangsa Papua untuk menentukan nasib sendiri.

Ini menunjukkan pemerintahan SBY-JK, tidak saja berjiwa kerdil dan tidak demokratis, tapi juga berjiwa manipulatf sehingga menjadi senyawa dengan kolonialis hegemonik, yang tetap ingin memertahankan dominasinya atas nasib dan masa depan bangsa Papua Barat yang memang berbeda dari Indonesia (baca not integratied) baik jika dilihat dari segi demografis, topografis, geografis lebih-lebih secara etnografis.

Hal ini dapat dibuktikannya sendiri oleh Fortuna Anwar, sebagimana dapat simak dari judul wawancaranya dalam Harian Terbit, sbb : "Sejarah Papua adalah Sejarah Indonesia". Padahal lebih tepat bila ia menyatakan; Sejarah Papua adalah sejarah konflik dengan Indonesia sekaligus Belanda, dari pada menyatakan secara sebaliknya. Sebab sejarah Papua dari dulu selalu penuh konflik karena perbedaan alasan nation, ketika berhadapan dengan Indonesia selama zaman Hindia Belanda maupun sesudahnya.

Hingga kini Papua adalah sejarah konflik antara menentukan nasib sendiri terlepas dari Indonesia maupun dulu dari Belanda antara menentukan nasib sendiri terlepas dari semua pangkuan-kepangkuan (memimjam istlah Agus Alue Alua). Karena itu, hasil Pepera, perjanjian Malino, Bali dan New York Agreement adalah semuanya hasil rekayasa Indonesia yang hipokrit. Karena itu kita sangat beralasan bila mengatakan pemerintah Indonesia selalu memaksa dan mengklaim Papua sebagai bagian integral dari NKRI, implikasinya, maka selama itupula demokrasi Indonesia tidak pernah ada dan tercipta dalam artian secara sesungguhnya, kecuali pseudo demokrasi; Jadinya demo grazy, memalukan!

Jika Indonesia tidak angkat kaki dan beranjak dari Papua Barat, maka selama itu pula Papua selalu dan selamanya duri dalam daging tubuh Indonesia/NKRI. Dengan sendirinya pernyataan, Fortuna Anwar, dalam wawancara yang menyatakan secara sebaliknya dengan menyembunyikan fakta dan sejarah Indonesia-Papua secara apa adanya adalah tanda jiwa hipokrit para pemimpin Indonesia, dan itu menunjukkan kematian demokrasi di Indonesia.

Pernyataan secara tumpang tindih antara fakta dan sejarah sesungguhnya, adalah hambatan upaya terwujudnya demokrasi dalam negeri Indonesia sendiri dimata internasional. Tapi ini juga menunjukkan jiwa kekerdilan aparat pemerintahan Indonesia berhadapan dengan Papua yang memang dari dulunya hingga sekarang dan nanti terus berjuang untuk berdaulat-Merdeka.

Karena itu upaya demikian adalah kebiasaan pejabat publik Indonesia yang kolonialis yang tidak bermanfaat bagi dirinya maupun orang lain, namun mencoba membohongi publik yang dipublikasikan di media masa dalam negeri Indonesia pada saat mata dunia tertuju apa yang sebentar lagi akan terjadi di Papua Barat, dalam usahanya menentukan nasib sendiri, adalah hanya kesia-siaan dan membohongi diri sendiri dan membodohi rakyat sendiri.

Namun usaha "kepepet" Indonesia mau terus mengkolonisasi Papua, demikian dapat kita maklumi. Padahal semua tahu bahwa sejarah sesungguhnya lain dan faktanya disembunyikan demi efektititas hegemoni wacana atas kepentingan kolonialisme mereka. Padahal siapun tahu bahwa; Sejarah Papua adalah konflik dengan Indonesia disatu sisi dan disisi lain dengan Belanda atau secara sebaliknya saling berhadap-hadapan diantara ketiganya. Sekalipun belakangan -secara sangat terlambat- pada masa akhir pasca Indonesia merdeka, Belanda ingin hidup menetap secara bersama dengan orang Papua adalah usaha sia-sia dari Belanda dan menjadi bukti konflik sejarah Indonesia Papua dan Belanda Indonesia itu sendiri.

Sejarah Papua adalah Sejarah Indonesia adalah kalimat tautologis dari kalimat Papua adalah integral dengan Indonesia, karena itu kalimat ini tidak bermakna.
Tapi lebih benar jika mengatakan "Sejarah Papua Adalah Sejarah Konflik Dengan Indonesia-Belanda dan Papua sekaligus", ada makna dan memang seharusnya demikain. Bukan Papua adalah sejarah persahabatan dengan Indonesia. Justeru sebaliknya, bahwa sejarah Papua adalah sejarah pertentangan dengan Indonesia. Karena apa? Sebab Belanda memperlakukan Indonesia tidak sama dengan perlakuan mereka terhadap orang Papua.

KLASIFIKASI PENDUDUK HINDIA BELANDA

Indonesia diperlakukan oleh Belanda dalam pemerintahan Hindia Belanda, sebagai warga nomor urut buntut. Martabat bangsa, penduduk pribumi Indonesia diperlakukan secara tidak adil dan diskriminatif. Oleh sebab itu penduduk Indonesia yang paling siap menduduki jabatan kabinet pemerintahan Soekarno-Hatta adalah dari kalangan orang Ambon, Timor atau Jawa Kristen, kecuali ada keunikan sedikit dari orang Indonesia dari Sumatra Barat kala itu.

Sebab perlakuan Belanda zaman pemerintahan Hindia Belanda diantaranya orang Indonesianya sedikit sekali yang bisa baca tulis alias banyak buta huruf hampir semua penduduknya kala itu. Bahkan diskriminasi Belanda pada penduduk pribumi hanya dibolehkan sekolah paling tinggi sampai SR atau SD zaman kini. Bahkan dalam kenyataan sehari-hari secara dikhotomis Belanda menempatkan pribumi kelas penduduk paling rendah.

Karena itu dapat dibayangkan sruktur sosial terpola demikian parah di pihak pribumi, menyebabkan penduduk pribumi Indonesia derajatnya ditempatkan sedikit sekali diatas hewan. (Maaf), jadi perlakuan pemerintah Hindia Belanda, memang agak keterlaluan terhadap penduduk pribuminya yang berarti dalam hal ini orang Indonesia. Pribumi diperlakukan tidak jauh berbeda dari hewan, karena itu, tidak lebih manusiawi, anjing masih bagus, karena masih dipelihara dirumah blonde/Belanda, babi masih dimakan oleh Belanda, tapi penduduknya, manusia Indonesia seperti apa diperlakukan? Entahlah kita tidak bagus bercakap lebih lanjut disini tentang ini.

Tapi untuk menjawab Mama satu ini, sebagaimana secara sebaliknya seperti Fortuna Anwar, yang mengatakan : Sejarah Papua adalah sejarah Indonesia, sebab disini dapat ditimbulkan pertanyaan; Dalam hal apa ? Kalau dalam hal konflik/sengketa antara Indonesia-Belanda, maka kita merasa yakin itu pasti ada. Tapi jika menyamakan, maka merurut saya itu tidak berdasar. Sebab alasannya dalam zaman Hindia Belanda ada tiga hukum, untuk penyederhanaan golongan manusia dari istilah stratifikasi sosial.

Stratifikasi sosial sesungguhnya bukan berbeda dari pembagian class, class manusia. Sehingga ada tiga stratifikasi sosial juga klasifikasi penerapan hukum pada warganya yang dianut oleh Hindia Belanda, yang sesungguhnya implikasi tidak lansung dari cara pandang Belanda dari konteks sosial masyarakat penduduk Hindia Belanda, jajahannya yang kini bernama Indonesia itu.

Berdasarkan tipologi pembagian Belanda, maka Hindia Belanda ada tiga tipologi yakni : Pertama, Tipe manusia Belanda, dan jangan lupa juga ada Belanda "hitam" sebagai class utama bersama Belanda. Kedua, tipe penduduk class dua/menengah, adalah mereka yang utamanya mendiakan material kebutuhan Belanda dari Timur Asing yang terdiri dari golongan orang Thionghoa/Cina, Arab dan India sedikit Pakistan, dan Pribumi dari priyayi. Ketiga, adalah masyarakat kebanyakan umumnya dari penduduk peribumi Indonesia, sebagai kelass rendah atau kelass paling tidak diuntungkan.

Yang disebut belakangan adalah yang paling tidak diuntungkan pada zaman Hindia Belanda. Sehingga hampir-hampir sederajat atau dibawah derajat bukan manusia diperlakukan oleh Belanda terhadap mereka ini yakni orang-orang Indonesia, jadi masih nenek moyang dengan Fortuna Anwar juga mungkin. Hal demikian tidak pernah terjadi pada masa Hindia Benda di Papua, bahkan orang Papua mengenakan pakaian yang sama yang dikenakan Belanda, sama-sama makan roti dalam satu meja dan kursi secara sederajat.

KOSMOPOLITANISME PAPUA

Sebelum orang Jawa tahu kulkas orang Papua sudah menggunakan kulkas, mesin cuci, alat pendingin ruangan. Mereka mengunjungi bioskop yang sama, mengunjungi mini market atau supermarket yang sama dengan Blonde (Belanda). Pada saat orang Indonesia tidak tahu apa itu Mall, mini market, Orang Papua menjadi sesuatu yang biasa di Holandia dan Manukwari. Orang Papua sudah mengkonsumsi berita liputan interternasional, sesuatu hal yang tidak bisa dinikmati (sebab jawa dong zaman itu tra tau baca tulis) oleh seorang pribumi Indonesia kala itu sudah dinikmati pribumi Papua dikota Manukwari utamanya dan Hollandia.

Karena itu Jossudarso digugurkan dan mati di Pulau Hendrik Island, Sudomo dan Suharto datang invansi ke Papua Barat, banyak para tentara Indonesia bawa angkut pulang ke kampung di Jawa, barang-barang milik orang Papua mulai dari celana Levis yang asli dan bagus, Sepatu, jam rolex, dan kulkas, alat pendingin ruangan, mesin cuci, mesin ketik, semua-semua hal yang kala itu tidak dimiliki orang Jawa Indonesia yang sudah dimiliki orang Papua.

Karena itu kala orang Jawa dari militer kampungan (ndeso), menjarah barang-barang milik orang Papua dan sebahagian peninggalan Belanda, orang Papua menonton sambil menertawakan tarzan-tarzan ini yang sangat lucu, tapi juga sangat memalukan, karena baru kenal kulkas dan atau mesin cuci.

Dalam pergaulanpun orang Papua sangat biasa dan lebih berperadaban modern ketimbang Jawa Indonesia yang back county-an pada tahun 1960-an itu. Orang Papua sudah biasa bergaul hidup dan berinteraksi dengan Belanda, Cina, Arab dan Melayu-Asia secara sangat bisa karena itu kepribadian mereka kala itu telah terbentuk kepribadian orang-orang berperadaban dalam dunia metropolis.

Hal demikian sangat berbeda ketika kala itu-sampai hari ini seperti umumnya orang Jawa Indonesia berlansung, gaya hidup kosmopolitanisme orang Indonesia dan lainnya masih asing. Karena itu kebanyakan orang Indonesia kaget dan menonton dengan mata melotot jika melihat orang Papua yang bergaya metropolis. Hal ini terutama banyak terjadi tahun 1970-an di kota-kota besar dan di sejumlah diskotek ibukota.

Mereka baru mengenal orang asing secara dekat baru sekarang ini. Indonesia dan penduduk bangsanya baru kenal peradaban modern dan sulit menyesuaiakan diri dengan kehidupan modern, sesuatu yang sudah tidak asing dan biasa bagi orang Papua sejak dulu tahun 1930-an sampai 1960-an.

Mereka dari orang Indonesia karena baru berjumpa dengan orang dari suku lain, terutama dari Papua, yang biasa terjadi selam ini. Sikapnya adalah kaku. Mereka belum beradab, peradaban secara modern dalam pengertian sesungguhnya. Apalagi wacana demokrasi, HAM, kecuali baru-baru ini menjadi populer dikalangan elit intelektual setelah pulang belajar dari Barat dan Eropa sekitar dalam tahun 1990-an dan 1980-an akhir -akhir ini saja.

Orang Papua kala itu menertawakan manusia kampungan yang tidak kenal peradaban mencuri dan bawa kabur pulang ke Jawa apa-apa yang bagi mereka biasa-biasa saja dalam zaman itu, menyaksikan tarzan-tarzan tak berperadaban yang baru mengenal atau mau mengenal apa mesin pendingin ruangan, Kulkas dan mesin cuci secara memalukan dipertontonkan dimata kepala dihadapan orang-orang berperadaban dan metalitas kosmopolit dari Papua zaman itu.

KESIMPULAN

Demikian pembagian golongan dalam penerapan hukum yang juga sangat diskriminatif antar tiga golongan manusia dalam tatanan Hindia Belanda. Hal ini berbeda misalnya dengan perlakuan Belanda pada orang Papua dan Ambon, maka ada istilah penduduk bumi putera (demikian, sebutan Belanda bagi penduduk asli indonesia zaman itu). Orang-orang Bumi putera ini menyebut belanda dengan sebutan Londe. Tapi ada londe "hitam" yang terdiri dari orang-orang Ambon yang bukan beragama Islam, dan Papua termasuk "Belanda hitam" dalam pandangan Bumi putera.

Karena itu perlakuan Belanda terhadap negeri jajahannya yakni penduduk Indonesia dalam negeri mereka yang terdiri dari kepulauan dari yang paling barat hingga di timur sampai di Maluku saja, tidak sampai Papua, diperlakukan sama seperti bukan lagi sedikit sekali martabatnya diatas hewan, tapi mungkin lebih tepat dikatakan dibawah hewan. Sama seperti nasib negro Amerika atau Apartheid di Afrika Selatan dulu.

Jika ditelusuri secara demikian maka yang terbelakang itu sesungguhnya orang-orang Indonesia. Karena mereka baru mengenal peradaban, secara amat terlambat, apalagi mengenal kehidupan metropolis dalam tahun 90-an dan 2000-an akhir-akhir ini saja. Hal demikian sangat berbeda dengan orang Papua yang dapat kawin-mawin dengan seorang gadis Belanda dengan pemuda Papua sesuatu hal yang tidak dapat dibayangkan dapat terjadi di Indonesia terutama dikalangan orang Jawa.

*** ***